Ditopang oleh merek Pizza Hut yang mendunia serta memiliki total 397 outlet; Pizza Hut Restaurant (PHR), Pizza hut Delivery (PHD) dan konsep baru Pizza Hut Express (PHE) yang tersebar di 28 provinsi, PZZA merupakan perusahaan pemegang franchise pizza terbesar di Indonesia. PZZA saat ini ditransaksikan di PE 12,8x/PBV 2,0x 2019F, masih dibawah rata-rata industri sejenis di PE 30,0x/PBV 6,0x, namun kami melihat pelemahan nilai tukar berdampak negatif terhadap SSSG. Kami merekomendasikan HOLD dengan TP Rp 1.030/ lembar.

Kinerja PZZA 1H18

PZZA membukukan hasil kinerja keuangan yang baik di 1H18, perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 19,3% YoY menjadi RP 1,7 Tr (45% dari proyeksi FY18) dari Rp 1,4T. HPP mengalami kenaikan 17,7% YoY, Laba Kotor meningkat 20,6% YoY. Segmen makanan dan minuman membukukan pertumbuhan 20,2% YoY dan 13,9% YoY, didukung oleh 31 outlet baru di 1H18. Laba bersih tercatat Rp 141 Miliar, kami memprediksi PZZA dapat membukukan Rp 163 Milliar di 2018 (15,4% YoY) dengan penurunan margin laba bersih sebesar 0,3% menjadi 4,4%.

Major Catalyst and Valuation

Ditopang oleh konsep baru. PZZA membuka model outlet baru yakni Pizza Hut Express yang membutuhkan belanja modal, beban operasi dan luasan ruang kerja yang lebih kecil. Belanja modal yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 800 Jt, dibandingkan PHR; Rp 8 miliar, dan PHD; 3 miliar. Format yang lebih kecil ini diharapkan dapat memenuhi target ekspansi dan memperbesar margin keuntungan perseroan.

Branding yang kuat. Pizza Hut restoran salah satu restoran yang sudah terkenal di Indonesia. Menurut survei statista di Indonesia, sebesar 51,4% konstituen sudah pernah mengunjungi restoran Pizza Hut (Gbr 1) dan masuk dalam kategori 4 besar di bidang makanan cepat saji setelah KFC, Burger king, dan McDonalds. Dalam skala global, merk Pizza Hut menjadi top 10 merk dagang bernilai di bidang makanan cepat saji (Gbr 2). Merk yang kuat serta imporovisasi menu setiap tahun menjadi kunci perusahaan dalam menjaga pertumbuhan penjualan outlets (SSSG).

SSSG berkorelasi dengan pelemahan rupiah. Secara historis, dari data yang kami miliki, kami melihat adanya hubungan antara pelemahan nilai tukar dengan SSSG (Gbr 6). Di tahun 2016, saat rupiah menguat 2,2%, SSSG membaik ke level 6,1% dan di tahun 2017 saat rupiah terdepresiasi 0,6%, PZZA SSSG melambat menjadi 5,9%. Di tahun 2018, Rupiah terdepresiasi 10,8% ke level Rp 15.200/USD, kami memperkirakan SSSG akan melambat ke level 3,5%.

Valuasi Rp 1.030/lembar – rekomendasi “HOLD”. Kami menilai SSSG PZZA yang terkorelasi dengan nilai tukar menjadi risiko, serta mempertimbangkan HPP PZZA yang berkaitan dengan harga terigu, menjadi perhatian utama kami disaat Rupiah sedang mengalami perlemahan. Menggunakan metode valuasi campuran dengan asumsi PE 15,0x, PBV 2,0x, EV/EBITDA 5,0x serta metode DCF, kami merekomendasikan HOLD dengan target harga Rp 1.030/lembar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here