PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan) Laporan Keuangan Kuartal III Tahun 2018

Ikhtisar

· Laba bersih per saham meningkat 21% menjadi Rp422

· Penjualan sepeda motor meningkat, sedangkan penjualan mobil menurun

· Kenaikan harga batu bara kembali berkontribusi terhadap pendapatan bisnis alat berat, kontraktor penambangan dan pertambangan

· Penurunan harga minyak kelapa sawit mengakibatkan kinerja agribisnis menurun

“Kami berharap Grup akan mencapai kinerja tahunan yang baik, meskipun persaingan yang sengit di pasar mobil serta pelemahan harga minyak kelapa sawit masih tetap diwaspadai.”

Kinerja Keuangan Konsolidasi

9 bulan yang berakhir 30 September
2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan Bersih 174.881 150.225 16
Laba bersih 17.073 14.159 21
Rp Rp
Laba bersih per saham 422 350 21
30 September 2018

Rp miliar

31 Desember 2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk 132.480 123.780 7
Rp Rp
Nilai aset bersih per saham 3.272 3.058 7

* Disajikan kembali sehubungan dengan penerapan PSAK No. 69: Agrikultur

Kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2018 dan 2017 serta posisi keuangan per 30 September 2018 disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan tidak diaudit. Posisi keuangan per 31 Desember 2017 telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Laporan Presiden Direktur

Tinjauan Kinerja

Secara keseluruhan, laba bersih Grup selama periode sembilan bulan 2018 meningkat, disebabkan penambahan kontribusi dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, segmen jasa keuangan dan segmen otomotif, yang melebihi dari penurunan kontribusi segmen agribisnis. Sementara itu, pelemahan mata uang Rupiah selama periode ini menekan marjin terhadap bisnis manufaktur Grup, dimana dampak tersebut diimbangi oleh bisnis-bisnis berbasis komoditas Grup, aktivitas ekspor serta meningkatnya keuntungan selisih kurs.

Kinerja

Pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 16% menjadi Rp174,9 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan pada hampir semua segmen, terutama dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.

Laba bersih Grup mencapai Rp17,1 triliun, meningkat 21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp3.272 pada 30 September 2018, 7% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

Kas bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan mencapai Rp1,7 triliun, turun dibandingkan dengan nilai kas bersih sebesar Rp2,7 triliun pada 31 Desember 2017, hal ini disebabkan oleh investasi Grup pada bisnis jalan tol dan GO-JEK serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,8 triliun, dibandingkan dengan Rp46,1 triliun pada akhir tahun 2017.

Kegiatan Bisnis

Kontribusi dari tiap segmen bisnis terhadap laba bersih konsolidasian Astra International pada periode ini adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada PT Astra International Tbk
9 bulan yang berakhir 30 September
2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif 7.013 6.579 7
Jasa Keuangan 3.452 2.948 17
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi 5.428 3.400 60
Agribisnis 896 1.096 (18)
Infrastruktur dan Logistik 112 (66) 270
Teknologi Informasi 106 105 1
Properti 66 97 (32)
Laba bersih konsolidasi 17.073 14.159 21

* Disajikan kembali sehubungan dengan PSAK No. 69: Agrikultur

Otomotif

Laba bersih dari bisnis otomotif Grup meningkat 7% menjadi Rp7,0 triliun, terutama disebabkan oleh meningkatnya penjualan sepeda motor.

Penjualan mobil secara nasional meningkat 7% selama periode ini menjadi 857.000 unit. Namun, penjualan mobil Astra turun 4% menjadi 424.000 unit karena meningkatnya kompetisi, sehingga pangsa pasar Astra menurun dari 55% menjadi 50%. Grup telah meluncurkan 17 model baru dan 6 model revamped selama periode ini.

Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 9% menjadi 4,7 juta unit, sedangkan penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik meningkat 9% menjadi 3,5 juta unit, dengan pangsa pasar yang stabil sebesar 75%. Grup telah meluncurkan 5 model baru dan 16 model revamped selama periode ini.

PT Astra Otoparts Tbk (AOP), bisnis komponen otomotif Grup, melaporkan laba bersih yang meningkat 12% menjadi Rp414 miliar, disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari meningkatnya kinerja penjualan pasar pabrikan otomotif (OEM/original equipment manufacturer) dan pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 17% menjadi Rp3,5 triliun, dengan peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumennya.

Selama periode ini, bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami penurunan nilai pembiayaan sebesar 4% menjadi Rp60 triliun terutama akibat turunnya pembiayaan pada

segmen mobil low cost. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 12% menjadi Rp837 miliar, disebabkan oleh penurunan provisi. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor meningkat 18% menjadi Rp1,7 triliun, yang mencerminkan portofolio pembiayaan yang lebih besar.

Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 28% menjadi Rp3,8 triliun, terutama disebabkan berkurangnya jumlah pinjaman kepada perusahaan kecil dan menengah.

Pada September 2018, Grup dan WeLab, perusahaan teknologi terkemuka di Tiongkok termasuk Hong Kong pada bidang pembiayaan konsumen, mengumumkan pendirian PT Astra WeLab Digital Arta, yang 60% sahamnya dimiliki oleh Grup, untuk menawarkan produk pinjaman kepada konsumen ritel dan juga menyediakan solusi finansial berbasis teknologi kepada konsumen korporasi.

PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp494 miliar dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp708 miliar. Kinerja Bank Permata pada tahun 2017 diuntungkan dari one-off gain atas penjualan non-performing loans. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) pada akhir September 2018, masing-masing sebesar 4,8% dan 1,7%.

PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp764 miliar, disebabkan meningkatnya keuntungan investasi dan pendapatan underwriting. Pada periode yang sama, perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 232.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 663.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

Laba bersih Grup dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat sebesar 60% menjadi Rp5,4 triliun.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 61% menjadi Rp9,1 triliun, terutama disebabkan peningkatan kinerja bisnis mesin konstruksi, kontraktor penambangan, dan pertambangan, yang seluruhnya diuntungkan oleh peningkatan harga batu bara.

Pada bisnis mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu tumbuh 34% menjadi 3.681 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga meningkat. Bisnis kontraktor penambangan yang sepenuhnya dimiliki Grup, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 22% menjadi 717 juta bank cubic metres serta peningkatan produksi batu bara sebesar 10% menjadi 90 juta ton. Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan pertumbuhan penjualan batu bara sebesar 15% menjadi 5,8 juta ton, termasuk penjualan sebesar 526.000 ton coking coal dari PT Suprabari Mapanindo Mineral (SMM), perusahaan coking coal yang 80,1% sahamnya dimiliki UT dan mulai beroperasi pada akhir 2017.

Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan penurunan laba bersih sebesar 18% menjadi Rp91 miliar. Penambahan proyek-proyek konstruksi baru senilai Rp835 miliar berhasil diperoleh selama periode ini.

PT Bhumi Jati Power (BJP), yang 25% sahamnya dimiliki UT, sedang dalam proses konstruksi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas masing-masing 1.000 mega watt (MW) di Jawa Tengah, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2021.

Pada Agustus 2018, United Tractors melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara, menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat untuk mengakuisi 95% kepemilikan atas PT Agincourt Resources, perusahaan yang mengoperasikan tambang emas di Sumatera Utara, dengan perkiraan nilai transaksi sebesar US$ 1,0 miliar.

Agribisnis

Laba bersih dari segmen Agribisnis Grup turun sebesar 18% menjadi Rp896 miliar.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih 18% menjadi Rp1,1 triliun yang terutama disebabkan oleh pelemahan harga rata-rata minyak kelapa sawit sebesar 8% menjadi Rp7.639/kg. Penurunan tersebut belum dapat diimbangi oleh kenaikan volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya sebesar 23% menjadi 1,6 juta ton.

Infrastruktur dan Logistik

Segmen infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih Rp112 miliar, dibandingkan dengan rugi bersih Rp66 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2017. Hal ini merupakan dampak dari peningkatan keuntungan dari bisnis jalan tol Tangerang-Merak dan unit bisnis PT Serasi Autoraya, serta masuknya dampak kerugian atas pelepasan 49% kepemilikan di PT PAM Lyonnaise Jaya pada tahun sebelumnya.

Total portofolio Grup pada bisnis jalan tol adalah 353km, dimana sepanjang 269km sudah beroperasi. PT Marga Mandalasakti (MMS), perusahaan operator jalan tol Tangerang-Merak sepanjang 72,5km, yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, berhasil meningkatkan pendapatannya sebesar 11% menjadi Rp793 miliar, sedangkan jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 40,5km, yang sepenuhnya milik Perseroan, dan telah beroperasi pada September 2017 sepanjang 39,6km, mencatat pendapatan sebesar Rp151 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2018. Pendapatan jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116,8km, yang 45% sahamnya dimiliki Perseroan, meningkat sebesar 12% menjadi Rp1,0 triliun. Jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,6km, yang 40% sahamnya dimiliki Grup dan telah beroperasi sepanjang 40,1km menyusul pembukaan seksi 3 pada September 2017, mencatat pendapatan sebesar Rp180 miliar, naik 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Grup juga memiliki 40% saham di jalan tol Kunciran-Serpong sepanjang 11,2km dan 25% saham di jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 39,8km, di mana keduanya masih dalam pengembangan.

Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) meningkat sebesar 41% menjadi Rp190 miliar, terutama disebabkan oleh meningkatnya marjin bisnis leasing dan rental mobil. Jumlah kontrak sewa kendaraan SERA mengalami kenaikan 1% menjadi 22.800 unit.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup mencatat kenaikan 1% menjadi Rp106 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 1% menjadi Rp138 miliar yang disebabkan peningkatan pendapatan dari seluruh segmen bisnisnya.

Properti

Segmen properti Grup melaporkan penurunan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp66 miliar, terutama disebabkan oleh menurunnya penerimaan laba yang diakui dari pengembangan proyek Anandamaya Residences, sebagai dampak dari tingkat persentase penyelesaian proyek yang semakin mengecil pada tahap akhir konstruksi.

Proyek-proyek pengembangan properti yang dimiliki oleh Grup terdiri dari Arumaya di Jakarta Selatan dan Asya di Jakarta Timur.

Prospek Bisnis

Kami berharap Grup akan mencapai kinerja tahunan yang baik, meskipun persaingan yang sengit di pasar mobil serta pelemahan harga minyak kelapa sawit masih tetap diwaspadai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here