Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM

Rupiah stabil terhadap Dolar walau laporan rapat kebijakan Federal Reserve di bulan September mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Pekan trading ini secara umum mendatar untuk Rupiah. Harga berada di kisaran 15185 pada saat laporan ini dituliskan. Kalender ekonomi Indonesia kosong di hari Jumat sehingga Rupiah sepertinya tetap akan bergerak di rentang yang sempit. Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana USDIDR bergerak di sekitar 15200.

Pound Tidak Menghiraukan Penjualan Ritel Inggris yang Lemah

Reaksi Pound yang tidak bergairah terhadap data penjualan ritel September yang mengecewakan kembali membuktikan bahwa perkembangan Brexit lebih berpengaruh dibandingkan fundamental ekonomi domestik terhadap volatilitas mata uang ini.

Penjualan ritel merosot tajam bulan lalu, jauh di bawah ekspektasi pasar di -0.8% karena penjualan bahan makanan merosot tajam sebesar 1.5%. Dalam situasi normal, data yang mengecewakan seperti ini akan membuat Pound melemah. Aksi harga saat ini menyiratkan bahwa investor lebih memperhatikan negosiasi Brexit.

Peserta pasar yang mengharapkan gejolak dari acara yang disebut "saat penentuan" terpaksa kecewa setelah Theresa May "tidak menawarkan sesuatu yang baru" kepada para pemimpin EU27 di hari pertama pertemuan Uni Eropa. Tak mengherankan, para pemimpin Eropa tersebut kemudian membatalkan rencana rapat November karena negosiasi tidak menunjukkan kemajuan. Theresa May menjadi sorotan karena mengindikasikan bahwa ia "siap mempertimbangkan" untuk memperpanjang masa transisi keluar dari Uni Eropa melampaui 2020.

Memperpanjang masa transisi keluar dari Uni Eropa hingga setelah 2020 bisa jadi bukan hasil yang menyenangkan bagi pasar bahkan bila itu memberi waktu tambahan bagi pemimpin Uni Eropa dan Inggris untuk mencapai terobosan, karena pada dasarnya ini hanya membuktikan bahwa negosiasi Brexit mandek. Masalah perbatasan Irlandia tetap menjadi hambatan utama, dan sepertinya situasi belum akan berubah.

Indeks Dolar Menguat karena Notulen Fed, Dekati 95.80

Sentimen investor terhadap Dolar menguat setelah notulen rapat kebijakan terkini Federal Reserve mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Salah satu poin terpenting dalam rilis FOMC ini adalah isyarat bahwa Federal Reserve mungkin meningkatkan suku bunga melampaui ekspektasi pasar. Ini jelas akan mengecewakan bagi Presiden Trump, namun positif bagi pembeli Dolar karena ini menggarisbawahi bahwa Federal Reserve sepenuhnya independen dari Gedung Putih.

Jika terjadi penurunan jangka pendek terhadap Indeks Dolar, maka alasannya kemungkinan adalah aksi ambil untung. Namun pandangan optimis Federal Reserve mengenai kenaikan suku bunga AS dianggap mendukung bagi USD di jangka panjang.

Sentimen yang bullish secara umum terhadap ekonomi AS dan prospek kenaikan suku bunga AS dianggap sebagai faktor penarik bagi investor terhadap Dolar, dan akan menjadi ancaman bagi pasar berkembang yang rentan mengalami arus keluar modal.

Sorotan Komoditas – Emas

Mereka yang menduga Emas akan merosot tajam karena notulen rapat FOMC pasti terkejut melihat kemampuan logam mulia ini untuk bertahan. Faktor ketidakpastian eksternal dan sentimen investor yang terus bervariasi terhadap pasar modal mungkin menjadi alasan bagi trader untuk tetap memegang posisi Emas untuk saat ini.

Dari aspek teknis, Emas juga tetap terdukung. Logam mulia ini bullish di kerangka waktu harian di atas $1213. Apabila investor dapat mengangkat harga di atas $1225, maka Emas mungkin saja naik menuju $1233 pada sesi mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here