Definsi pasar obligasi, jenis, keuntungan dan risikonya

0
29

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan penerbit

a.    Corporate Bonds

Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.

b.    Government Bonds

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.

c.    Municipal Bond

Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untut membiayai proyek- proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

Jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga

1)   Zero Coupon Bonds

Obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo

2)   Coupon Bonds

Obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.

a.  Fixed Coupon Bonds:

Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.

b.  Floating Coupon Bonds:

Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.

Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran/opsi

a.  Convertible Bonds:

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.

b.  Exchangeable Bonds:

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.

c.   Callable Bonds:

Obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

d.  Putable Bonds:

Obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan jaminan atau kolateralnya

1)  Secured Bonds:

Obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:

a.  Guaranteed Bonds:

Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan dari pihak ketiga

b.  Mortgage Bonds:

Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.

c.   Collateral Trust Bonds:

Obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.

2)  Unsecured Bonds:

Obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

Jenis Obligasi dilihat dari sisi segi nilai nominal

1) Konvensional Bonds:

Obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.

2)  Retail Bonds:

Obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.

Karakteristik Obligasi

  • Memiliki Nilai Nominal (Face Value):

Nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

  • Kupon (the Interest Rate):

Nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase.

  • Waktu Jatuh Tempo (Maturity):

Tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi Kupon / bunga nya.

Manfaat Berinvestasi Obligasi

Bagi emiten (issuer)

  1. Alternatif pendanaan yang relatif murah dibandingkan pinjaman di Bank.
  2. Sifat utang dalam bentuk jangka panjang memberikan fleksibilitas yang tinggi bagi manajemen emiten dalam penggunaan dana.
  3. Dibandingkan menerbitkan saham, posisi kepemilikan perusahaan tidak akan mengalami perubahan.

Bagi investor

  1. Alternatif investasi yang aman
  2. Berpotensi mendapatkan capital gain
  3. Kedudukan investor obligasi lebih senior dibandingkan saham
  4. Mendapatkan kupon secara periodik dan pelunasan pokok diakhir umur obligasi.
  5. Memperoleh penghasilan secara periodik dalam jangka waktu yang panjang.
  6. Memperoleh yield yang lebih tinggi dibandingkan instrumen jangka pendek, misalnya deposito

Imbal Hasil Investasi di Obligasi

1) Bunga

Dibayar secara reguler sampai jatuh tempo danditetapkan dalam persentase dari nilai nominal. Biasanya pembayaran bunga terjadi setiap 3 atau 6 bulan sekali.

2)   Capital Gain

Sebelum jatuh tempo biasanya obligasidiperdagangkan di Pasar Sekunder, sehingga investormempunyai kesempatan untuk memperoleh CapitalGain. Capital Gain juga dapat diperoleh jika investormembeli obligasi dengan diskon yaitu dengan nilailebih rendah dari nilai nominalnya, kemudian padasaat jatuh tempo ia akan memperoleh pembayaransenilai dengan harga nominal.

3)   Hak klaim pertama

  • Jika emiten bangkrut atau dilikuidasi, pemegangobligasi sebagai kreditur memiliki hak klaim pertama atas aktiva perusahaan.
  • Hak konversi menjadi saham untuk pemegang Obligasi Konversi  Investor dapat mengkonversikan obligasi menjadi saham pada harga yang telah ditetapkan, dan kemudian berhak untuk memperoleh manfaat atas saham.

Risiko Investasi pada Obligasi

  1. Inflation Risk: Risiko inflasi yang mendorong turunnya daya beli masyarakat
  2. Political Risk: Kemungkinan terjadi nasionalisasi atau tindakan pemerintah yang merugikan
  3. Credit Risk/ Default Risk: Risiko dimana penerbit tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo
  4. Rating Risk: Penurunan harga pasar obligasi karena lembaga pemeringkat efek menurunkan rating/bobot nilainya.
  5. Likuiditas: Risiko yang dihadapi saat investor tidak dapat menjual obligasinya sebelum jatuh tempo, pada saat investor membutuhkan dana.
  6. Interest rate risk: Risiko yang muncul akibat pergerakan suku bunga
  7. Call risk: Risiko yang muncul akibat penerbit obligasi menarik kembali seluruh atau sebagian obligasi sebelum jatuh tempo
  8. Yield curve risk: Risiko yang terjadi sebagai dampak perubahan bentuk yield curve
  9. Prepayment Risk (mirip dengan call risk): Risiko yang timbul sebagai dampak adanya pelunasan pokok obligasi yang tidak terjadwal. Biasanya pada residential mortgage.
  10. Reinvestment    Risk:   Risiko  yang   terjadi   akibat   bunga   yang   diperoleh diinvestasikan kembali, dan memperoleh suku bunga yang lebih rendah.
  11. Foreign Exchange Risk: Risiko yang terjadi akibat perubahan nilai tukar mata uang internasional terhadap mata uang suratberharga. Risiko ini dialami jika kita memegang obligasi dalam valuta asing.
  12. Volatility Risk: Risiko yang timbul sebagai dampak dari opsi (option) yang melekat pada obligasi  (call, prepayment or put)
  13. Event Risk: Risiko yang terjadi diluar pasar keuangan seperti bencana alam maupun pengambilalihan perusahaan.
  14. Public Policy Risk: Risiko akibat perubahan kebijakan pemerintah yang mempengaruhi sektor usaha penerbit surat berharga sehingga mempengaruhi pendapatan.

Index Obligasi

Manfaat Indeks Obligasi

  1. Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi
  2. Sebagai alat teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
  3. Benchmark untuk mengukur kinerja portofolio obligasi
  4. Analisa pengembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN)

Indonesia Government Bond Index (IGBX)

Pada tanggal 1Juli 2004 BEI meluncurkan Indeks Obligasi Negara dengan nama Indonesia Government Bond Index (IGBX). Indeks ini dapat digunakan sebagai:

  1. Barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi
  2. Alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
  3. Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
  4. Analisa pengembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

IGBX diterbitkan secara harian dengan menggunakan tahun dasar Juni 2004 yang ditetapkan 100 sebagai nilai dasar indeks. Metodologi yang dipakai untuk perhitungan IGBX adalah nilai rata-rata tertimbang (weighted average) terhadap nilai obligasi yang masih tercatat dan dapat diperdagangkan.

Indonesia Bond Index (INDOBex)

Indeks obligasi ini diluncurkan oleh OJK pada 21 November 2014 lalu bekerja-sama dengan BEI dan Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) untuk mengukur kinerja dan tren pergerakan pasar obligasi Indonesia. Indeks ini dihitung menggunakan harga pasar dan yield wajar yang ditetapkan IBPA. INDOBex diharapkan dapat menjadi acuan utama dalam mengukur kinerja pasar obligasi dalam negeri serta mampu menjadi indikator kinerja portofolio obligasi dalam pengambilan keputusan investasi di pasar obligasi oleh investor.

INDOBeX adalah indeks obligasi berdenominasi rupiah yang diterbitkan oleh pemerintah dan korporasi baik obligasi konvensional maupun sukuk. Per Agustus 2015, INDOBeX mencakup:

  1. INDOBex Composite
  2. INDOBex Corporate
  3. INDOBex Government

Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Index

Indeks IBPA adalah indikator kinerja pasar obligasi Indonesia yang diterbitkan oleh IPBA selaku anak perusahaan BEI yang bertugas melakukan penilaian harga atas Efek bersifat utang, Sukuk dan surat berharga lainnya untuk menetapkan harga pasar wajar (fair values) sehingga memungkinkan investor untuk menilai investasinya.

Perbedaannya dengan INDOBex, terletak pada:

  1. Nilai Outstanding obligasi  : minimal IDR50miliar
  2. Waktu Jatuh Tempo          : < dari 1 tahun (365 hari) dari legal maturity
  3. Base Date                        :10 Januari 2010

Untuk saat ini IBPA sudah mengeluarkan 5 buah index, yaitu:

a.    IBPA Composite Bond Index (ICBI)

Indeks yang menggabung antara seluruh obligasi pemerintah dan obligasi korporasi di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

b.    IBPA Government Bond Index (GBIX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi pemerintah baik yang konvensional maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA

c.    IBPA Corporate Bond Index (CIBX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi korporasi baik yang konvensional maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA

d.    IBPA Convesional Bond Index (VBIX)

Indeks yang menggabungkan obligasi pemerintah dan obligasi swasta non syariah yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA

e.    IBPA Sukuk Index (SIX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi syariah baik yang diterbitkan oleh pemerintah ataupun swasta di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA

Peringkat Obligasi

Untuk menentukan kualitas dan risiko dari sebuah obligasi, maka investor dapat menggunakan peringkat atau rating obligasi. Semakin tinggi rating-nya, semakin aman pula obligasi tersebut. Sebaliknya, semakin rendah peringkatnya, semakin tinggi risikonya. Menurut konsensus para pelaku pasar, obligasi yang masuk dalam kategori layak investasi harus memiliki rating minimal BBB. Untuk lebih mudah dalam menyeleksi obligasi, investor bisa memanfaatkan peringkat atau rating obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat atau rating agency.

Di kancah internasional, ada beberapa lembaga pemeringkat yang selalu menjadi acuan pelaku pasar, yakni Moody’s, Standard & Poors (S&P), dan Fitch Rating. Sementara, di Indonesia, ada tiga lembaga pemeringkat yang saat ini aktif: Perusahaan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fitch Rating Indonesiadan Indonesia Credit Rating Agency (ICRA)

Metodologi pemeringkatan Pefindo untuk Sektor korporasi (nonfinancial) secara umum, mencakup tiga risiko utama penilaian, yaitu risiko industri (industryrisk), risiko bisnis (businessrisks) dan risiko finansial (financial risks). Sementara itu, faktor kunci dalam analisis penilaian risiko profil bisnis perusahaan sedikit berbeda dari satu perusahaan ke yang lain, tergantung pada Faktor-faktor Kunci Kesuksesan (Key Success Factors) dari industri dimana perusahaan tersebut digolongkan. Juga penting untuk dicatat bahwa semua analisis akan mencakup analisis perbandingan terhadap pesaing-pesaing sejenis dalam industri yang sama maupun industri itu sendiri dengan industri lainnya.

1)   Penilaian risiko industri untuk peringkat KORPORASI non Keuangan

  1. Pertumbuhan industri dan stabilitas (growth and stability) Penilaian yang terkait dengan kondisi permintaan dan penawaran, prospek, peluang pasar (ekspor vs domestik), tahapan industri (awal, pengembangan, matang, atau penurunan), dan jenis produk (produk yang bersifat pelengkap vs produk yang bisa disubstitusi, umum vs khusus, dan komoditas vs differensiasi).
  2. Penghasilan & struktur biaya dari Industri (revenue and cost structures)

Penilaian yang mencakup pemeriksaan komposisi aliran pendapatan (Rupiah vs US Dollar), kemampuan untuk menaikkan harga (kemampuan untuk dengan mudah meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan/para pengguna akhir), tenaga kerja & bahan baku, struktur biaya dan komposisi (Rupiah vs Rp dolar), komposisi biaya tetap vs biaya variabel, dan pengadaan bahan baku industri (domestik vs impor).

  • Hambatan masuk & persaingan dalam industri (barrier to entry & competition within industry)

Penilaian yang mencakup penilaian terhadap karakteristik industri (padat modal, padat karya, terfragmentasi, menyebar, diatur ketat, dan sebagainya) untuk menentukan tingkat kesulitan masuk bagi para pemain baru. Penilaian juga mencakup analisis jumlah pemain dalam industri (global vs domestik), pesaing terdekat (domestik vs global), potensi perang harga (domestik vs global), dan lain-lain untuk mengetahui tingkat kompetisi yang ada dan yang akan datang.

  • Peraturan dan de-regulasi industri (regulation and de-regulation) Pembatasan jumlah pemain, lisensi, kebijakan pajak (ekspor, impor, kuota,  tarif,  bea,  cukai,  dll),  kebijakan  harga  pemerintah (peraturan

pemerintah Indonesia mengatur harga di beberapa sektor seperti listrik, jalan tol, dan telepon) dan persyaratan lingkungan (khususnya untuk sektor pertambangan) dan lain-lain.

  • Profil Keuangan (financial profile)

Industri umumnya dikaji dengan analisis beberapa tolak ukur keuangan yang diambil dari beberapa perusahaan besar dalam industri yang sebagian besar dapat mewakili industri masing-masing. Analisis Kinerja Keuangan Industri meliputi analisis marjin, keuntungan, leverage, serta perlindungan arus kas.

2)   Penilaian risiko keuangan untuk Peringkat KORPORASI non Keuangan

  • Kebijakan keuangan (Financial Policy)

Analisis yang mencakup tinjauan filosofi manajemen, strategi dan kebijakan keuangan terhadap risiko (historis, sekarang dan proyeksi kedepan). Selain itu, pemeriksaan manajemen atas target keuangan (pertumbuhan, leverage, struktur utang, kebijakan dividen, dan sebagainya), kebijakan lindung nilai, dan kebijakan lain dalam upaya mengurangi resiko keuangan perusahaan secara keseluruhan (sejarah masa lalu vs kedepannya). Rekam Jejak Perusahaan pada pemenuhan kewajiban keuangan di masa lalu juga dikaji untuk menentukan tingkat komitmen, kesungguhan dan konsistensinya untuk membayar kewajiban- kewajibannya secara tepat waktu.

  • Sruktur Permodalan (Capital Structure)

Analisis mencakup pemeriksaan dari sejarah perusahaan, saat ini dan proyeksi leverage kedepan (total hutang dan nilai bersih hutang dalam hubungannya dengan besar modal, total modal dan arus kas), struktur utang dan komposisinya (Rupiah vs mata uang asing, utang jangka pendek vs hutang jangka panjang, dengan tingkat suku bunga tetap vs suku bunga mengambang, dll). Cara pengelolaan kewajiban juga dikaji secara mendalam.

  • Perlindungan Arus Kas (Cash Flow Protection)

Analisis yang menyeluruh meliputi kajian dari arus kas perusahaan dan kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Tingkat Kemampuan Melayani Pembayaran Utang diukur oleh rasio pembayaran bunga dan rasio pembayaran utang. Tingkat likuiditas perusahaan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendek juga dikaji secara mendalam.

  • Fleksibilitas keuangan (Financial Flexibility)

Analisis meliputi evaluasi gabungan semua ukuran finansial di atas untuk sampai pada pemahaman yang menyeluruh tentang kesehatan keuangan perusahaan. Analisis tentang faktor-faktor lain yang terkait atau angka angka yang tidak secara khusus ditelaah diatas, seperti klausul perlindungan asuransi, batasan atas perjanjian pinjaman/obligasi atau hubungan dengan induk perusahaan dan bantuan-bantuan juga ditelaah. Penugasan analitis lain yang dibahas adalah evaluasi pilihan yang bisa diambil oleh perusahaan dalam tekanan, termasuk rencana-rencana atas kejadian tidak terduga dan kemampuan serta fleksibilitas untuk berurusan dengan berbagai skenario yang merugikan. Dukungan Pemegang Saham dan komitmennya juga sangat dipertimbangkan.

SUMBER : TICMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here