IHSG diperkirakan masih akan cenderung volatile ke depannya diwarnai oleh tren kenaikan suku bunga, depresiasi rupiah, dan perkembangan trade war. Earnings season 9M18 juga dapat menambah volatilitas dalam jangka pendek. Di tengah situasi saat ini, kami melihat sektor terkait komoditas masih menjadi pilihan menarik

Andy Ferdinand
Head of Equity Research PT Samuel Sekuritas Indonesia

Pelemahan rupiah terus berlanjut. Tren kenaikan suku bunga di AS telah mendorong kenaikan yield US Treasury 10 tahun hingga sempat mencapai 3,2%. USD index cenderung menguat di bulan ini. Sementara itu, ketidakpastian akan trade war dan potensi krisis di sejumlah negara berkembang seperti yang dialami oleh Turki dan Argentina masih menjadi kekhawatiran investor. Negara berkembang dengan defisit current account seperti Indonesia terus mengalami depresiasi mata uang. Rupiah telah melemah 2,2%MTD/12,3%YTD dan hal ini dapat berdampak pada profitabilitas sejumlah besar emiten. Analisa sensitivitas kami memperkirakan EPS IHSG dapat turun 0,8% untuk setiap 1% depresiasi rupiah.

Pemerintah berupaya menstabilkan rupiah. Secara fundamental, kondisi Indonesia lebih baik dari Turki dan Argentina, serta jauh lebih kuat daripada waktu krisis di 1998 dan 2008. Pemerintah terus berupaya menjaga rupiah, melalui antara lain penerapan biodiesel (B20), pelarangan impor bahan konsumsi dengan multiplier effect rendah, dan penangguhan sejumlah proyek infrastruktur. BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25bp lagi menjelang akhir tahun ini sejalan dengan estimasi kenaikan Fed rate 25bp di bulan Desember nanti. Nilai tukar rupiah dan langkah pemerintah menstabilkan rupiah terus menjadi perhatian utama investor ke depannya.

Volatilitas IHSG diperkirakan terus berlanjut.. Seiring dengan tren kenaikan suku bunga dan depresiasi rupiah, serta adanya ketidakpastian seputar trade war dan pilpres, kami melihat IHSG akan relatif sideways dan volatile hingga 1H19 atau hingga puncak dari Fed rate sudah lebih jelas. Pada periode ini dapat dilakukan trading dengan memanfaatkan volatilitas. Khusus dalam jangka pendek, earnings season 9M18 dapat memunculkan ekspektasi akan kinerja emiten dan meningkatkan volatilitas, sehingga menambah momentum untuk trading. Mayoritas bank dalam coverage kami diperkirakan inline dengan ekspektasi. Dampak dari peningkatan suku bunga akan lebih terefleksikan. Sejumlah saham yang menurut tim kami akan membukukan peningkatan kinerja cukup baik adalah ADRO, PTBA, ITMG, AKRA, UNTR, dan JPFA (Detil dapat dilihat pada halaman 3).

Pilihan fundamental pada sektor tertentu. Hingga 1H19 atau di tengah situasi kenaikan suku bunga dan depresiasi rupiah, kami menyukai sektor komoditas seiring karakteristiknya yang USD earners dan harga komoditas yang relatif tinggi, apalagi saham-saham yang low gearing. Sektor terkait konsumsi juga menarik seiring nature-nya yang defensive dan harga komoditas yang tetap tinggi diperkirakan akan semakin berdampak pada daya beli masyarakat. Hal ini ditopang pula oleh program subsidi dan stimulus pemerintah, serta belanja politik menjelang pemilu. ADRO, UNTR, AKRA, MEDC, AALI, dan ICBP menjadi pilihan kami.

__,.,___

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here