Lo Keng Hong, si ‘Warren Buffet’ dari Indonesia

Home » Investing Ideas » Lo Keng Hong, si ‘Warren Buffet’ dari Indonesia
October 2, 2018 Investing Ideas No Comments
wikipedia.org

“Falsafah hidup saya adalah bagaimana bisa menjadi kaya sambil tidur”

Tanyalah prihal kesuksesan pada orang ini dan ia akan menjawab memiliki banyak uang sebanyak waktu luang adalah cara paling menyenangkan untuk menikmati hidup. Sebab pekerjaan utama Lo Keng Hong saat ini adalah menekuni hobi keliling dunia, dan menetap di sejumlah negara selama ia mau. Uang dan waktu bukanlah masalah, karena keduanya telah bekerja untuknya.

Cara Lo Keng Hong menikmati hidup saat ini mungkin akan jauh berbeda, bila ia tidak mengambil keputusan berani mengundurkan diri dari posisi Kepala Cabang di Bank Ekonomi pada 1995. Keputusan itu diambil setelah ia menemukan cara yang lebih baik mencari uang, dibandingkan bekerja sebagai karyawan—meski jabatan kepala cabang sebuah bank tampaknya bukanlah pekerjaan yang buruk. Tahun itu, Keng Hong merasa yakin, bermain saham adalah pekerjaan yang lebih menguntungkan dari pada sekedar kepala cabang.

Nama Lo Kheng Hong belum banyak dikenal meskipun dia tercatat memiliki investasi dalam porsi yang cukup besar di sejumlah emiten. Sosok pria berambut putih ini memang sulit dikenali sebagai orang penting walaupun kerap hilir mudik dalam Rapat Umum Pemegang Saham emiten-emitan Bursa Efek Indonesia. Ia memilih bersembunyi dari publisitas, dan bahkan menolak jabatan komisaris yang bisa saja diperoleh secara otomatis.

Nama Lo Kheng Hong misalnya, muncul dalam daftar kepemilikan saham di sejumlah perusahaan publik—sebuah kesempatan yang hanya dimiliki pemilik saham dalam porsi besar. Sebut saja, pada PT Multibreeder Adirama  Indonesia Tbk (MBAI) dengan kepemilikan saham 8,29 persen. Dengan kepemilikan itu, namanya muncul sebagai individu yang bisa menjadi pemegang saham ketiga terbesar di MBAI. Bila dirupiahkan, dengan harga sekitar 29 ribu per saham saja, nilai itu sudah hampir mencapai 180 miliar rupiah.

Selain itu, nama Kheng Hong  juga tercatat sebagai pemilik sekitar 4 persen saham induk usaha PT Bank Panin Tbk, dan 5,22 persen di salah satu anak usaha grup Panin lainnya, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk. Baru saja, ia menjual sahamnya di PT Gajah Tunggal Tbk dalam jumlah yang cukup besar. “Saat ini, saya ada di sekitar 30 perusahaan terbuka.”

Namun, jangan anggap semua berangkat dari sim-salabim, uang warisan apalagi hasil lotere. Kheng Hong mengaku semua itu tidak diperoleh dengan mudah. Ketika menerjukan diri ke bursa saham 22 tahun lalu, ia hanya bermodalkan disiplin untuk menyisakan uang gaji guna diinvestasikan. “Modal saya terbilang sedikit sekali, itu saya kumpulkan dari gaji saya. Itu uang saya pribadi dari hasil bekerja di bank, karena saya dilahirkan bukan dari keluarga yang mampu,” kenangnya.

“Pada tahun 89 itu, saya melihat pasar modal itu sangat menarik, karena harga sahamnya itu menjanjikan capital gain yang besar sekali,” katanya. Berbeda dengan investor lainnya di pasar modal, ia masuk pasar modal tanpa pengaruh orang lain, seperti iming-iming untung besar atau kaya dalam semalam. Sebagai seorang bankir, ketika itu dia sangat tertarik melihat tingginya imbal hasil yang diperoleh dari bermain saham. “Begitu emiten listing, hanya dalam beberapa bulan itu harganya sudah naik sangat tinggi,” jelasnya mengenai awal mulanya dia menjadi investor.

116 Kali Lipat

“Dalam lima tahun ini harganya sudah naik 11.600 persen atau 116 kali lipat. Ini salah satu keuntungan terbesar saya.””

Pilihan untuk menjadi fulltime investor adalah titik tolak kesuksesan. Puluhan tahun bermain saham, telah memberinya keuntungan yang tidak sedikit. Aset beberapa juta yang tadinya hanya dari tabungan, kini telah berubah menjadi ratusan miliar.Pasar modal dan saham, bagi Kheng Hong bisa memberikan keuntungan yang tidak terbatas. Berbeda dengan investor lain yang mematok target keuntungan tertentu dari suatu saham, ia adalah tipikal investor yang akan melepas saham hanya dari perhitungan keuntungan yang diperoleh.

Keng Hong tidak akan mudah tergoda oleh bujuk rayu harga saham yang naik berlipat-lipat. Ia lebih memilih bersabar dan disiplin dengan syarat-syarat investasi yang telah ditetapkannya . Strategi ini diterapkan saat membeli saham MBAI. Setelah dibeli pada harga 250 rupiah per saham sekitar lima tahun lalu, saat ini harga saham MBAI sudah diperdagangkan di level 29.000 rupiah per saham. “Dalam lima tahun ini harganya sudah naik 11.600 persen atau 116 kali lipat. Ini salah satu keuntungan terbesar saya.”

Meski telah melonjak hingga 116 kali lipat, Kheng Hong mengaku sama sekali tidak berniat melepas saham tersebut dalam jangka pendek. Dia bahkan sangat percaya bahwa saham MBAI yang sekarang masih relatif murah dan bakal naik lebih tinggi lagi.  “Buat apa saya lepas, saat ini PE-nya (Price Earning Ratio) baru sekitar 6 kali. Padahal di bursa sekarang itu masih ada sahamnya yang PE nya sampai 200 kali seperti ENRG tapi masih tetap ada yang beli,” tegas penggemar Warren Buffet ini.

Meskipun pekerjaannya adalah bankir, bukan berarti pasar modal bisa dikenalinya dengan mudah. Ia perlu meluangkan waktu cukup banyak disela-sela pekerjaan untuk mendalami ilmu seputar investasi, dan sejak awal ia berjanji tidak akan pernah berutang untuk bermain saham ini. Janji yang sampai sekarang ia penuhi dan membuatnya terlilit masalah ketika prediksinya salah.

Keng Hong mengenang, pada mulanya sebagai pemain saham pemula, ia tidak jauh berbeda dengan umumnya investor yang ada di pasar modal saat ini. Membeli saham hanya berdasarkan rumor dan dengan horizon jangka pendek. Namun berdasarkan pengalamnnya selama 22 tahun iitu, cara ini seringkali membuatnya merugi. Seiring bertambahnya pengalaman, perlahan tapi pasti dia mulai menemukan cara berinvestasi yang benar. Sejak saat itu, dia mengaku hampir tidak pernah merugi  dalam membeli saham. “Sampai sekarang sudah 15 tahun, saya sudah tidak bekerja di mana pun, tidak punya kantor, tidak punya pelanggan satu pun, saya juga tidak punya karyawan satu pun. Praktis, saya cuma punya supir dan pembantu saja,” katanya.

Waktu dan Uang

Kheng Hong mengaku cukup puas. Menjadi investor telah memberinya dua keuntungan sekaligus. Selain memiliki banyak uang, dia juga memiliki banyak waktu luang. Sejak awal memutuskan untuk menjadi investor, dua hal itulah yang hendak ia cari. “Di dunia ini kan ada empat macam orang. Pertama itu adalah orang yang punya banyak waktu tetapi tidak punya uang (pengangguran). Kedua, orang yang punya banyak uang tetapi tidak punya waktu (pengusaha). Ketiga, orang yang tidak punya uang dan tidak punya waktu (karyawan). Dan keempat, yakni punya banyak uang dan punya banyak waktu, itu biasanya seorang investor,” jelasnya.

Dan Kheng Hong adalah seorang investor. Ia kini telah terbebas dari rasa pusing untuk mengurus karyawan atau pelanggan jika dia menjadi seorang pengusaha ataupun eksekutif. Dengan posisi ini, segala macam urusan itu telah diserahkan kepada orang-orang professional yang menjadi direksi, komisaris, manajer dan karyawan. Karena keuntungan terbesar dari keberhasilan yang dicapai perusahaan sepenuhnya adalah merupakan hak dari pemegang saham atau investor. Sedangkan direksi, komisaris, atau karyawan hanya mendapat jatah dari gaji dan bonus yang diberikan.

“Jadi falsafah hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. Kan namanya sleeping partner, karena saya gak boleh ikut campur,” kata pria yang memilih tidak mau menjadi komisaris di sejumlah emiten, meski dia memiliki hak dengan porsi saham yang relatif besar.

Bagi ayah dua anak ini, waktu luang yang dimilikinya merupakan berkah yang terus disyukuri, bahkan lebih daripada hasil yang diperolehnya menjadi investor. “Sebetulnya waktu itu lebih berharga daripada uang, karena uang yang kita belanjakan itu masih bisa kita ganti lagi, tetapi waktu yang telah kita lewati itu takkan bisa kembali lagi,” ujar pria yang hobi membaca segala macam buku tentang saham ini.

“Time is more than money… karena uang yang kita belanjakan itu masih bisa kita ganti lagi, tetapi waktu yang telah kita lewati itu takkan bisa kembali lagi”

Majalah Pialang Indonesia, media yang pertama mempublikasikan Lo Keng Hong

4 Jurus Ala Kheng Hong

Kheng Hong sangat terinspirasi oleh Warren Buffet. Berdasarkan pengalamannya, ia menetapkan empat syarat yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk membeli saham tertentu. Syarat yang pertama dan paling utama adalah manajemen, termasuk pemegang saham pengendali yang menunjuk jajaran manajemen.

Ini penting karena menjadi investor di suatu perusahaan berarti mempercayakan seluruh harta milik kita ke manajemen.  “Jika dalam membeli properti pertimbangan utamanya adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Maka dalam membeli saham yang menjadi pertimbangan utama adalah manajemen, manajemen, dan manajemen.” Meski suatu perusahaan atau emiten memiliki fundamental bisnis yang sangat bagus, bagi Kheng Hong, hal itu tidak akan berarti apa pun jika manajemennya ternyata suka mengambil uang perusahaan. Secara spesifik, dia mengakui emiten-emiten dalam Grup Astra, Unilever, dan BUMN telah terbukti baik.

Selanjutnya, adalah profil bisnis yang dimiliki emitan harus hebat. Ini bisa diukur dari tingkat profitabilitas suatu perusahaan, misalnya saja dari tingkat Return on Equity (ROE) yang tinggi, atau dengan menghitung marjin laba bersih. Untuk kategori bisnis yang hebat ini, Kheng Hong menunjuk bisnis produksi DOC milik Multibreeder yang sulit dimasuki pemain lain. Saat ini, praktis di Indonesia hanya ada dua pemain yang bisa eksis di bisnis yang harus dikelola dengan standar biosecurity yang sangat tinggi ini.

“Pemain baru tidak ada yang berani masuk ke bisnis ini karena memang sulit. Padahal, tingkat marjinnya sangat tinggi,” katanya. Pada tahun 2010 lalu, tingkat ROE Multibreeder tercatat mencapai 58,7 persen. Dengan nilai buku ekuitasnya hanya 436 miliar rupiah, Multibreeder bisa membukukan laba bersih 256 miliar rupiah. “Ini adalah bisnis yang hebat,” katanya.

Syarat yang ketiga, adalah kemampuan perusahaan untuk tumbuh. Untuk ini, ada empat kategori perusahaan, pertama adalah perusahaan yang terus merugi, kedua adalah perusahaan yang kadang untung dan kadang rugi, ketiga yakni perusahaan yang laba terus tetapi stagnan.“Jenis perusahaan yang keempat itu adalah perusahaan yang bisa menghasilkan laba yang terus bertumbuh setiap tahunnya. Ini adalah perusahaan yang growing,” kata pria yang punya hobi mengamati laporan keuangan emiten ini.

Terakhir, pertimbangan Kheng Hong dalam memilih saham adalah valuasi yang murah. Berbeda dengan investor umumnya, Kheng Hong konsisten memvaluasi saham berdasarkan kemampuannya mencetak laba (Price Earning Ratio). Dia tidak mempermasalahkan jika harga suatu saham telah naik tinggi, asalkan PE nya masih relatif kecil.

Setelah keempat syarat itu terpenuhi, Kheng Hong tidak akan ragu lagi untuk membeli saham yang dirasa bagus tersebut. Jika sudah menemukan saham yang sudah bagus, Kheng Hong mengaku tidak perlu menunggu saat yang tepat, apalagi menunggu rekomendasi dari orang lain. “Tapi saat yang paling baik untuk masuk itu sebenarnya ketika krisis, ketika orang lain semua takut masuk. Ketika inilah kita bisa menemukan saham-saham bagus dengan harga yang sangat murah. Krisis itu adalah kesempatan emas,” tegasnya.

Hal itu telah dilakukannya ketika krisis 1998 lalu. Saat itu, Kheng Hong berani menaruh seluruh kekayaannya hanya di satu macam saham, yakni PT United Tractors Tbk. Ketika itu, dia masuk ketika harga saham perusahaan di Grup Astra itu sempat menyentuh level 125 rupiah per saham. “Akhirnya saham itu kemudian terbukti naik hingga 400 ribu persen sampai sekarang, (jika dihitung termasuk bonus, dividen, dan stock split),” jelas Kheng Hong yang mengaku menyesal ketika melepas saham tersebut lima tahun kemudian.

“…tidak perlu menunggu saat yang tepat, apalagi menunggu rekomendasi dari orang lain”

Leave a Reply