Apa itu EIDO?

Home » Wiki » Apa itu EIDO?
September 30, 2018 Wiki No Comments


Sebetulnya apa itu EIDO? Apa saja saham yang ada di dalamnya? Mengapa produk investasi ini bisa dijadikan acuan di Indonesia? Apakah produk ini bisa mewakili potret kinerja indeks sesunguhnya?

Investor sebaiknya perlu menajamkan analisis sejauh mana akurasi dari pergerakan produk ini dan korelasinya dengan indeks saham kita. Perlu juga didedahkan apa saja ‘jeroan’ dalam EIDO sehingga bisa secara jernih memposisikan diri dan mengambil keputusan investasi.

EIDO adalah kode perdagangan untuk produk bernama iShares MSCI Indonesia Exchange Traded Fund. Produk ini ialah semacam reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa layaknya saham atau dikenal dengan nama exchange trade fund (ETF).

Di Indonesia, kita mengenai reksa dana ETF yang dipelopori oleh PT Indo Premier Investment Management yang merilis Reksa Dana Premier ETF LQ-45 dengan kode perdagangan R-LQ45X di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya reksa dana yang dikelola oleh Blackrock Fund Advisors ini bernama iShare MSCI Indonesia Investable Market Index tapi dirubah namanya menjadi iShare MSCI Indonesia ETF pada 1 Juli 2013.

Produk yang tercatat di New York Stock Exchange ini berisikan sedikitnya 105 saham berkapitalisasi besar, sedang, dan kecil yang listing di BEI. Saham-saham dalam produk ini dipilih berdasarkan kriteria dari Morgan Stanley Composite Index atau MSCI.

Oleh karena tercatat di bursa New York, tentu investor bisa leluasa membeli dan menjual pada hari yang sama, sama dengan saham.

Keberadaan investasi ETF ini sebetulnya mewadahi investor di Amerika yang tidak bisa menaruh saham di BEI sehingga dia bisa langsung menyuntikan dana lewat reksa dana ETF itu yang notabene berisikan saham Indonesia.

EIDO memang bukan satu-satunya benchmark dan bukan kali ini saja dijadikan acuan karena reksa dana ini diperkenalkan sejak 2010. Masih ada rujukan lain yakni Market Vector Indonesia Index ETF Fund (IDX) meski ecara umum EIDO lebih sering dirujuk.

Di jejaring sosial acapkali juga muncul status atau kicauan pemilik akun yang doyan saham soal EIDO misalnya EIDO naik xx persen lalu IHSG akan naik berapa persen atau EIDO turun xx persen dan IHSG akan terjerembab berapa persen dan lainnya.

Terkadang investor pemula ritel berkocek terbatas lebih terbawa suasana dengan memilih saham dengan fundamental kuat dengan cara melihat portofolio saham lokal yang dikoleksi oleh asing salah satunya melalui EIDO ini.

Blackrock

Sebelum membedah isi produk ini, perlu juga mengetahui manajer investasi yang mengelola produk investasi ini.

Semua bermula dari Blackrock, perusahaan investasi yang didirikan pada 1988 dengan berbekal hanya delapan orang. Awalnya perusahaan ini fokus pada bidang investasi fixed income di bawah bendera The Blackstone Group seperti dikutip situs resmi perseroan.


Lalu pada 1992, perusahaan merubah nama menjadi Blackrock dan pada akhir tahun yang sama dana kelolaan mereka mencapai US$17 miliar.

Dana kelolaan atau asset under management mereka makin gemuk. Pada akhir 2004, aset kelolaan mereka mencapai US$53 miilar, akhir 1999 naik lagi mencapai US$165 miliar dan pada akhir 2004 nilainya menembus US$342 miliar.

Pencapaian terbesar terjadi saat mereka mengakuisisi Barclays Global Investor pada 2009 yang mendorong keaktivan mereka dalam produk indeks dan ETF melalui produk iShares.

iShare ini merupakan produk ETF global dengan lebih dari 430 fund global, saham, fixed income, dan komoditas, di mana produk ini perdagangkan di 16 bursa di seluruh dunia, salah satunya produk EIDO ini.

Produk serupa lainnya tersebar di sejumlah negara di antaranya Peru, Filipina, Brazil, China, India, Malaysia, Korea Selatan, dan Thailand tertunya ke arah negara-negara yang tengah naik daun ketika Eropa masih lesu.

Beberapa saham di antaranya PT Astra International Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Unilever Indonesia Tbk, dan PT Semen Indonesia Tbk.

Lantaran saham unggulan atau blue chip ada di dalamnya, pergerakan fund ini kadang mengikuti IHSG atau sebaliknya naik turun indeks saham kemungkinan seirama dengan EIDO.

Kehadiran fund ini membuat IHSG seperti tercatat di dua bursa lantaran puluhan saham unggulan di BEI ada dalam produk ini. Namun tentu saja hal itu bukan jaminan pasti dalam melihat pergerakan bursa saham Indonesia keesokan harinya.

Perlu diingat pergerakan bursa tidak semata-mata didorong oleh faktor teknikal dan fundamental tetapi juga faktor eksternal, karena itu calon investor perlu menengok prospektus produk ini. Jangan sampai ada ‘saham gorengan’ yang ‘terlanjur’ masuk dalam produk ini.

Isi produk itu juga belum semuanya saham unggulan karena ada beberapa saham non unggulan masuk. Dia lebih menyarankan investor untuk menengok ke MSCI Indonesia Futures Index yang dinilai lebih akurat melihat kondisi indeks keesokan hari.

Oleh karena itu EIDO sebetulnya bisa menjadi alternatif patokan dalam melihat saham Indonesia tapi bukan acuan yang layak dan pasti sehingga perlu ketajaman dalam melihat. Toh bisa jadi dari 10 kali pergerakan EIDO, belum tentu 10 kali pergerakan itu akan seirama pergerakan IHSG.

Trading tanpa pegangam bagaikan berperang tanpa senjata, tapi jangan terlalu banyak variabel dalam trading yang dikhawatirkan jadi boomerang.

Leave a Reply