Memahami kas dan likuiditas

Home » Wiki » Memahami kas dan likuiditas
September 29, 2018 Wiki No Comments

Cash is king. Istilah ini simpel dan punya arti yang sangat dalam bagi penulis. Saya punya pengalaman waktu membuka sebuah home industry dimasa kuliah bersama beberapa teman. Kebetulan waktu itu saya di percaya memegang keuangan dan akuntansi untuk bisnis tersebut.

Setelah berjalan beberapa saat kami senang karena penjualan dan produksi berjalan sangat lancar. Tetapi pada suatu ketika waktu menjelang membayar gaji karyawan tidak terdapat cukup kas untuk melakukan pembayaran gaji. Ternyata waktu itu saya tidak membuat laporan arus kas, tetapi hanya membuat jurnal untuk menghasilkan laporan laba rugi dan neraca saja yang berbasis accrual.

Singkat cerita teman-teman komplen karena bisnis sedang berjalan dengan sangat baik, bahkan kami kesulitan memenuhi order masuk, tetapi tidak ada kas untuk membayar gaji. Lalu kami mengevaluasi bersama apa yang terjadi dengan bisnis kami, minimal di temukan 2 hal penting yaitu penjualan yang sedang baik-baiknya itu berubah menjadi piutang dagang dengan pembayaran mundur.

Masalah kedua kami memiliki persediaan terlalu besar baik untuk bahan baku maupun barang dagangan. Waktu itu kami sempat melakukan pembelian lebih banyak bahan baku karena ada tawaran diskon tambahan bila pembelian dalam jumlah banyak. Sedang untuk barang dagangan kami banyak yang tertahan di toko sebagai supplier yang mengambi dengan kontinasi.

Bayangkan kalau kami gagal atau menunda membayar gaji karyawan, tentu konsekuensinya produktivitas karyawan turun, mungkin terjadi aksi mogok dan tingkat kepercayaan karyawan ke perusahaan turun. Belum lagi konsekuensi hukum yang mungkin dihadapi ketika gagal mebayar gaji atau upah. Hal ini tentu berkonsekuensi pada operasi perusahaan sehari-hari dan upaya kami yang waktu itu memenuhi order yang sedang banyak-banyaknya.

Kasus di atas bisa terjadi di perusahaan mana saja, dan terutama yang menengah dan kecil. Berangkat dari pengalaman itu tentu kita setuju kas dan likuiditas menjadi sangat penting. Karena itu ketika menganalisa perusahaan kita juga perlu memberikan fokus pada analisa kas dan likuiditas perusahaan.

Likuiditas Rasio

Rasio likuditas pertama yang paling sering dibahas adalah current ratio yang membandingkan antara asset lancar terhadap hutang lancar. Aset lancar biasanya terdiri dari kas dan setara kas, surat berharga piutang dagang, dan persediaan. Ini adalah kelompok yang diasumsikan mampu dijadikan uang kurang dari 1 tahun. Sedang hutang lancar adalah semua hutang atau kewajiban yang harus dipenuhi kurang dari 1 tahun.

Tidak ada sebuah acuan standar berapa besar rasio ini, tetapi semakin besar rasio ini semakin bagus bagi perusahaan. Acuannya sebenarnya adalah perusahaan dalam industri sejenis, karena beda model bisnis tentu beda taksiran. Tetapi beberapa literature yang saya baca menyebutkan angka 2 kali dianggap sebagai standar yang baik. Karena bila terlalu besar rasio juga tidak baik karena mempengaruhi produktivitas perusahaan.

Menyadari bahwa hutang lancar adalah sebuah kepastian yang harus dibayar pada waktu tertentu dalam 1 tahun maka current ratio dianggap masih kurang. Maka dikembangkan quick ratio (acid test ratio) yang rumusnya mirip dengan current ratio tetapi mengeluarkan persediaan dari unsur asset lancar. Sehingga yang dijumlahkan sisa kas dan setara kas, surat berharga jangka pendek, dan piutang dagang dibagai dengan hutang lancar.

Perlu dicatat surat berharga yang dimasukan disini adalah surat hutang yang dibeli untuk investasi jangka pendek (kurang dari 1 tahun) dan atau untuk ditradingkan. Rasio ini lebih mewakili karena persediaan belum tentu dapat dijual dalam satu tahun, dan bisa saja persediaan tersebut menjadi kadarluarsa sehingga tidak pernah bisa dijual. Kembali tidak ada standar untuk rasio ini dalam menilai kinerja perusahaan, tetapi logikanya minimal rasio ini menunjukkan nilai diatas 1 (satu).

Untuk melengkapi analisa likuiditas sebuah perusahaan, ditambahkan cash ratio. Kita sepakat kas adalah komponen yang sangat penting bagi sebuah perusahaan apalagi bila sesuatu yang buruk terjadi pada perusahaan. Ketika terjadi krisis ekonomi dimana iklim bisnis menjadi jelek dan pelanggan tidak mampu membayar perusahaan atau terjadi sebuah risiko spesifik pada perusahaan seperti tuntutan pihak ketiga, atau pelanggaran perusahaan pada peraturan, maka kas menjadi senjata terakhir.

Cash rasio membagi kas dan setara kas plus surat berharga jangka pendek terhadap hutang lancar. Pastikan surat berharga yang dijumlahkan adalah surat berharga yang likuid dan dapat dijual saat itu juga tanpa menurunkan harganya dengan signifikan. Lebih baik surat berharga itu terdapat pasar yang memperdagangkannya setiap hari, sehingga harga yang disajikan dilaporan keuangan adalah market value (harga pasar).

Menghitung Cash rasio saja kadang dianggap masih kurang karena perusahaan beroperasi dan menghasilkan kas dalam periode operasinya. Maka dikembangkan rasio baru cash flow to liquidity ratio dimana rasio ini membandingkan cash dan setara kas ditambah surat berharga dan cash from operating activities (CFO). CFO merupakan semua arus kas yang didapatkan perusahaan dari aktivitas operasi atau aktivitas utamanya. Rasio kas di atas dan rasio ini tidak ada standarnya, tetapi jenis bisnis dan industri menentukan berapa idealnya.

Ada satu lagi rasio yang juga sering dihitung untuk mengetahui kualitas asset lancar perusahaan yaitu cash to current asset. Perhitungan rasio ini adalah membandingkan jumlah kas dan setara kas ditambah surat berharga dibandingkan asset lancar. Aset lancar dianggap berkualitas bila komponen kas nya cukup besar. Tetapi ada dua kelemahan rasio ini yaitu tidak melihat besarnya hutang lancar perusahaan dan kas yang terlalu besar di dalam perusahaan tidak selalu baik.

Kas yang terlalu besar mengindikasikan perusahaan tidak beroperasi secara efisien karena tidak digunakan untuk investasi yang meningkatkan nilai perusahaan. Dan bila tidak ada lagi projek atau aktivitas yang perlu diinvestasi maka harusnya kas tersebut dipakai untuk mengurangi hutang jangka panjang terutama yang bunganya besar. Tentu bila hal ini dilakukan akan menurunkan cost of debt perusahaan. Dan terakhir tentu saja pemegang saham mengharapkan cash dividend bila terdapat cash yang sangat besar di dalam perusahaan. Karena salah satu tujuan perusahaan berdiri dan beroperasi adalah memaksimalkan nilai bagi pemegang saham.
Karena itu keseimbangan pengendalian likuiditas dan kas dalam perusahaan menjadi sangat penting dalam menunjang operasi perusahaan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Hans Kwee
Professional fund manager, research, analyst, investor, trader and trainer | Director at PT. Investa Saran Mandiri

Leave a Reply