You Have To Know Yourself, You Have To Know The Enemy

0
4

Michael Steven | CEO PT Kresna Graha Sekurindo Tbk

“Memimpin, mempunyai makna mengarahkan suatu masa untuk menjadi satu dan menuju pada satu tujuan yaitu menang. Dan kalau ingin memenangkan pertarungan, you have to know yourself and you have to know the enemy”

Gaya kepemimpinan saya itu pemimpin yang memiliki jiwa seperti pejuang. Ada hero spirit. Saya berjuang demi rakyat saya, yaitu keluarga besar Kresna Securities. Dalam memimpin, saya selalu merasa di dalam hati bahwa saya adalah tentara. I am soldier at heart.

Dan kalau saya sebagai tentara, tentunya saya mengabdi pada atasan saya. Saya akan seperti tentara-tentara yang profesional. Artinya kalau kita sebagai tentara kita akan membela tujuan kita mati-matian, dan tentunya kita juga akan mendukung atasan kita habis-habisan. Kita tunduk sama mereka.

Jadi prinsip-prinsip militer, prinsip kemiliteran itu yang menjiwai saya menjadi pemimpin. Dan jiwa kepemimpinan menurut saya itu seperti melihat sosok kebapakan.

Analoginya seperti pada kehidupan berumah tangga. Waktu kita menjadi anak, orang tua itu lebih tau dari kita. Walaupun nggak maha tahu, tapi dibandingkan dengan kita mereka lebih tahu. Meskipun pada akhirnya kita sekolah lebih tinggi, tapi tentunya ada wisdom, ada kebijaksanaan dari orang tua yang kita tidak tahu.

Atau sama juga seperti pola hubungan kita (manusia) dengan Tuhan YME. Kita harus mengikuti Dia, kalau dalam kepemimpinan sama saja bawahan harus mengikuti pemimpinnya. Dan semua perintah itu harus di dukung. Sistem hubungan Tuhan dengan kita juga bukan sistem demokrasi. Apakah kita bisa bilang minta sama Tuhan, “ya Tuhan saya tidak mau seperti ini, apakah Tuhan bisa ciptakan seperti yang kita mau? kan tidak seperti itu. Karena Tuhan itu Maha Esa.

Kalau dalam kehidupan kerajaan, hamba-hamba harus tunduk sama tuannya. Tapi tentunya tuannya juga harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Itulah yang saya pakai.

Ketika kita menguasai perusahaan yang besar, dan bayangkan kita punya jumlah pasukan yang besar juga. Kalau kita punya pasukan yang besar nggak mungkin kita nggak pakai sistem militer. Karena nggak mungkin pasukan yang besar itu bisa bergerak ke satu tujuan. Karena apa? Karena tidak terkoordinasi.

Dan untuk menjadi seperti itu, harus punya karakter tegas, disiplin, kerja keras, dan salah satu karakter yang penting adalah nasionalisme tinggi. Ibaratnya kalau sebagai warga Negara kita nggak nasionalis, sama saja kita jual negera kita. Buat saya nasionalis itu nasionalis ke Indonesia, nasionalis ke Kresna Sekuritas, kalau segmen yang lebih kecil itu keluarga kita. Dan kalau dalam kemiliteran nasionalis itu bisa berarti cinta negaranya, cinta tanah airnya, dan bersedia berkorban untuk negaranya.

Nilai itu yang kita ambil, artinya kita bersedia berkorban untuk perusahaan kita. Ada rasa memiliki jiwa seperti tentara yang siap tewas untuk menyelamatkan jendralnya, pemimpinya, atau orang yang dianggap punya kepentingan untuk menyelamatkan revolusi.

Cara saya memimpin itu bukan otoriter, harusnya orang-orang nggak berpikir seperti itu. Karena kalau saya otoriter saya nggak akan dengar lagi omongan mereka (karyawan). Mungkin saya cuma akan bilang ‘kerja’’, tapi kalau sekarang saya bilang “coba usulin ke saya”.

Saya lebih bijak. Karena saya tahu beberapa hal yang mungkin lebih tahu daripada karyawan. Dan dalam hal seperti itu saya kasih tahu mereka baiknya seperti apa. Jadi kita diskusi, dan bukan suatu yang otoriter. Orang yang nggak ngerti saya mungkin bilang saya otoriter.

Dan buat saya, bekerja itu yang penting happy. Banyak orang berpikir kerja itu untuk kerja. Saya inginnya orang itu bekerja untuk happy. Mereka harus berpikir, kalau kita kerja itu bukan kerja. Kalau menurut saya kalau kita kerja itu kita seperti melakukan sport yang kita suka, atau makan makanan yang enak. Jadi kerja itu kita tidak merasa berat, karena kita happy.

Katakanlah seperti pada waktu bermain bola. Kita serasa mau main terus, kalau kita benar-benar fisiknya sanggup, karena kita senang. Nah, kerja itu seperti main bola yang saya suka. Ada rasa senang saat tendang-tendangan bola, senang pada saat ada yang nge-goalin.

Pada saat tendang-tendangan bola itu sama seperti saat kita kerja, dan goal itu gambaran pada saat kita berhasil. Kalau kita belum melihat orang yang kerja seperti mereka pada saat bermain bola, itu belum akan sukses.

kepemimpinan saya ya kepemimpinan seperti pejuang. Ada hero spirit. Saya berjuang demi apa, ya demi keluarga kresna. Dan inilah yang kita minta, karyawan berjuang untuk itu. Membela keluarganya (Kresna Securities), semangat untuk memajukan perusahaan.

Hanya semangat itu yang bisa membuat hidup kita berarti dan berbeda. Ibaratnya ketika menjual sesuatu juga kalau kita nggak semangat saya yakin yang beli juga nggak akan berminat. Basicly orang itu senang deket-deket sama orang yang berenergi.

Dan saya nggak bisa deket-deket orang yang selalu berpikir negatif. Jadi kalau ada anak buah saya yang berpikir negatif, mereka salah kamar. Nah ini yang sedang kita ciptakan. Yang saya minta itu tidak lebih dan tidak kurang dari yang saya lakukan seperti saat saya menjadi karyawan kok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here