Apa yang disebut dengan saham murah?

0
12

Apa yang investor cari ketika berinvestasi di pasar saham ? jawabnyanya pasti kompak cuan atau untung. Lalu supaya untung caranya gimana ? Jawabannya beli murah jual mahal, beli murah lalu dapat dividend atau sederhananya nilai jual lebih besar dari nilai beli.

Kedengaran sederhana ya. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud murah sendiri? Apaka yang dikamsud murah itu adalah harga sahamnya murah seperti harganya udah Rp 50 ? atau harganya di bawah Rp 500 udah murah. Ada yang memang murah tetapi banyak juga yang murahan.

Membeli saham adalah membeli perusahaan atau membeli bisnis perusahaan. Jadi kuncinya sederhana cari perusahaan yang untung dari bisnisnya. Investor punya fokus ke bottom line atau net income perusahaan karena inilah milik kita para investor.

Tetapi buka net income saja yang dilihat, perhatikan Earning Per Share (EPS) karena bisa saja laba naik tetapi outstanding share (pemengan saham) bertambah sehingga jatah kita di laba berkurang. Jadi pertama perhatikan yang EPS nya positif dan besar. Lalu untuk tahu ini murah atau tidak bagaimana ?

Untuk menemukan yang murah kita harus membandingkan apa yang kita bayar dengan apa yang kita dapatkan. Dikenal sebuah rasio dengan nama Price Earning Ratio (PER) untuk mengetahu hal ini.

Rasio ini membandingkan antara harga saham (Price) dengan Earning per Share (EPS). Hasilnya menunjukan berapa yang kita dapat kan untuk setiap rupiah yang kita bayarkan. Semakin kecil angkanya semakin bagus.
Tapi tunggu dulu, sering kali perusahaan bagus PER nya ternyata udah tinggi, jadi apa yang harus kita lakukan. Tinggi rendahnya PER ini sebenarnya relatif terhadap perusahan sejenis, lakukan perbandingan antar PER ini perusahaan sejenis atau dalam satu sektor yang sama, sehingga kita dapat memlilih dalam sektor ini mana yang lebih murah dan bagus.

Tidak cukup sampai disana kita juga harus paham market leader di suatu sektor akan punya PER premium di bandingkan perusahaan sejenis atau kompetitornya di dalam satu sektor. Tentu market folower akan punya PER lebih rendah. Diatas terdengar agak kualitatif ya keputusannya. Untuk membuatnya lebih kualitatif kita ubah dengan asumsi perusahaan yang bagus yang merupakan market leader akan punya growth / pertumbuhan yang bagus.

Pertumbuhan di sisi revenue dan labanya dalam beberapa periode tertentu. Kembali di kenal rasio Price Earning Growth (PEG) untuk hal ini, dimana rasio ini membagi PER terhadap Earning Growth suatu perusahaan. Kalau PEG lebih kecil dari 1 maka perusahaan tersebut di anggap layak investasi atau murah.

Tidak cukup sampai di sana dalam menentukan sebuah perusahaan murah dan bagus, dikenal juga Return on Asset (ROA). ROA membagi net income perusahaan dengan total aset menunjukan bagaimana sebuah perusahaan menggunakan aset nya untuk menghasilkan keuntungan. Semakin besar rasio ini artinya perusahaan mampu mengoptimalkan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.

Tetapi ROA saja sering dirasa belum cukup karena investor banyak yang ingin tahu juga berapa return untuk setiap investasi yang dia tanamkan. Untuk hal ini dikenal rasio Return on Equity (ROE) dimana rasio ini membagi Net Income dengan totap equity atau modal pemilik.  Rasio ini menunjukan return yang didapatkan pemegang saham untuk setiap investasi nya, dan tentu saja yang semakin besar yang semakin bagus.

Masih ada satu hal lagi yang perlu inestor perhatikan yaitu efisiensi perusahaan dari priode ke priode menghasilkan laba. Ia hal ini di ukur melalui Return on Sales (ROS) atau yang juga dikenal dengan nama Net Profit Margin (NPM).

Rasio ini menunjukan dari setiap penjualan berapa persent yang berubah menjadi laba bersih (net income) bagi pemengang saham. Semakin besar rasio ini menunjukan margin perusahaan semakin tinggi. Dan bila kita perhatikan dari beberapa priode, peningkatan rasio ini menunjukan bahwa perusahaan semakin efisien atau dengan kata lain berhasil menekan biaya operasi.

Ada satu hal terkait ROS ini, dimana bisa saja laba bersih dihasilkan dari pendapatan lain-lain atau pendapatan yang bukan merupakan operasi utama perusahaan yang tidak berulang. Karena itu kita perlu juga memgecek Operating Profit Margin (OPM). Dimana rasio ini membagi laba operasi dengan penjualan, sehingga menunjukan margin laba dari operasi utama perusahaan.

Semua diatas biaca keuntungan, kalau risiko keuangan perusahaan sendiri dapat kita ukur lewat Debt to Equity Ratio (DER). DER membandingkan total Debt terhadap modal perusahan, sehingga semakin besar rasio ini semakin berisiko sebuah perusahaan. DER menunjukan leverage / pengungkit yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan ROE, bagus bila hutangnya terkendali dan dalam keadaan ekonomi yang baik.

Ketika ekonomi memburuk penggunaan hutang yang besar (tercermin dari DER yang tinggi) akan menjadi bumerang karena bunga akan membebani keuangan perusahaan. Dan ingat hak pemegang saham sesudah pemberi pinjaman sehingga pemegang saham mendapatkan sisa bila terjadi sesuatu di perusahaan.

Untuk perbankan EPS dan PER sendiri sering kali di dampingin oleh Book value per share (BVS) dan Price book value (PBV). BVS membagi total equity dengan jumlah saham beredar (outstanding share), dimana rasio ini menunuukan nilai buku perlembar saham. Lalu PBV sendiri membagi Price dengan BVS, dimana hal ini menunjukan apa yang kita dapatkan dari apa yang kita bayarkan.

Jadi sebagai investor yang cerdas kita harus fokus ke EPS, PER, PEG, ROA, ROE, dan DER untuk menemukan saham yang bagus dan murah. Dengan mendapatkan perusahaan terbaik berdasarkan rasio-rasio diatas diharapkan investor dapat mendapatkan profit yang maksimal kedepannya. Kembali kita harus ingat bersama membeli saham adalah membeli bisnis perusahaan. Mari kita bersama-sama berburu saham murah di saat pasar koreksi, tetapi ingat cari yang murah bukan yang murahan.

Hans Kwee
Trainer, Investor and Trader | Director at PT. Investa Saran Mandiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here