https://businessjargons.com

Sebuah peruahaan berdiri dan beroperasi salah satu tujuan utamanya adalah menghasilkan laba. Tentu saja ini tujuan bagi perusahaan yang pada umumnya, kecuali perusahaan yang didirikan untuk pelayaan publik dengan tujuan non profit organisasi.

Profit menjadi penting karena menunjukan hasil usaha yang dapat diberikan kepada pemegang saham, meningkatkan kesejahteraan karyawan dan untuk pihak-pihak lain yang berkepentingan bagi perusahaan. Selain itu profit yang maksimal juga menjadi indikasi sebuah perusahan mampu meningkatkan kualitas produknya di masa depan dan mampu bertahan di pasar dalam jangka panjang.

Sebenarnya rasio profitabilitas ini menunjukan efisiensi sebuah perusahaan dalam beroperasi dan menggunakan sumber dayanya. Tentu saja perbandingan efisiensi ini dilakukan terhadap tahun-tahun sebelumnya, terhadap target yang perusahaan (budget atau anggaran) buat dan terhadap perusahaan sejenis atau rata-rata industri.

Kemampuan perusahaan melakukan efisiensi dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki akan meningkatkan profit margin perusahaan. Secara umum pengukuran efisensi ini dilakukan terhadap dua hal yaitu

  1. Return On Sales (ROS)
  2. Return on Investment (ROI)

Yang pertama menunjukan bagaimana profit yang mampu dicapai berdasarkan penjualan yang dilakukan perusahaan. Dan yang kedua menunjukan bagaimana investasi atau sumber daya perusahaan mampu menghasilkan profit kepada perusahaan.
Komponen yang tergabung dalam Return on Sales antara lain

  1. Gross Profit Margin
  2. Operating Margin
  3. Margin Before Interest and Tax
  4. EBITDA Margin
  5. Pretax Margin
  6. Net Profit Margin

Sedang beberapa rasio yang sering digunakan dalam Return on Investment (ROI) yaitu

  1. Return on Asset (ROA)
  2. Return on Total Capital (ROTC)
  3. Return on Equity (ROE)

Gross Profit Margin membandingkan Laba kotor (Gross Profit) terhadap penjualan (Sales). Laba kotor sendiri dihasilkan dari mengurangkan penjulaan bersih (net sales) terhadap harga pokok produksi / Cost of goods sold (HPP / COGS). Umumnya rasio ini masih positif, artinya perusahaan mendapatkan profit dari selisih harga penjualannya.
Tetapi poin ini kadang tidak berlaku untuk beberapa BUMN yang disubsidi pemerintah untuk memberikan pelayanan pada publik. Hal lain yang harus kita cermati adalah perusahaan jasa, sering kali tidak menghitung HPP / COGS mereka sehingga rasio ini tidak dapat di hitung.

Operating Margin membandingkan laba operasi atau laba usaha (Operating Profit / Operating income) terhadap penjualan (sales). Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari bisnis utama perusahaan. Rasio ini tidak menghitung kebijakan struktur modal perusahaan, keputusan investasi diluar bisnis utama dan tingkat pajak.

Margin Before Interest and Tax yang kadang disebut EBIT (Earnings Before Interest and Tax) Margin punya cakupan lebih luas dari Operating Maring karena menggabungkan laba dari pendapatan utama perusahaan dan anak perusahaan. Sama dengan Operating Margin, Rasio ini mengukur margin perusahaan tanpa memperhatikan struktur modal, investasi diluar bisnis utama dan tarif pajak. Rasio ini membandingkan EBIT (Earnings before Interest and Tax) terhadap Penjualan Bersih (Net Sales).

EBITDA (Earnings Before Interest Tax Depreciation and Amortization) Margin dihitung dengan membandingkan EBITDA terhadap Net Sales. EBITDA sering dianggap sebagai arus kas kasar karena menambahkan Depreciation and Amortization kedalam EBIT, dimana Depreciation and Amortization adalah biaya non cash yang tetap ada di dalam perusahaan. Rasio ini menghilakan bias pengukuran ketika kita melakukan perbandingan dengan perusahaan sejenis karena menghilakan unsur pemilihan umur asset oleh management.

Pretax Margin (rasio laba sebelum pajak) mengukur margin setelah pengaruh struktur modal perusahaan karena setelah beban bunga, tetapi sebelum pajak. Rasio ini dihitung dengan membandingkan EBT (Earnings Before Tax) terhadap Penjualan bersih (net Sales). Rasio ini berguna untuk mengetahui tingkat pajak efektif perusahaan, tetapi bila ingin mengatahui rate nya kita perlu menghitung Effective tax rate. Effective tax rate dihitung dengan membandingkan income tax expense dibandingkan EBT.

Net Profit Margin membandingkan net income (laba bersih) dibandigkan Net Sales (penjualan bersih). Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan return kepada pemegang saham, dimana terdapat dua pemegang saham yaitu pemegang saham preferen dan pemegang saham biasa. Ini lah bottom line dan sering mendapat perhatian khusus pemegang saham karena return inilah yang mereka akan dapatkan.

Return on Sales (ROS) sangat penting karena efisensi perusahaan dalam beroperasi dan menggunakan sumber daya dapat di ukur. Tetapi seringkali kurang berarti bagi pemegang saham, pemilik perusahaan dan pihak terkait lainnya karena tidak menunjukan return atas investasi yang mereka lakukan. Karena itu beberapa rasio Return on Investment (ROI) juga mendapat perhatian khusus dari investor.

Return on Asset (ROA), mengukur kemampuan perusahaan menggunakan seluruh asset untuk menghasilkan laba. Dapat juga ditulis menghitung berapa return dihasilkan perusahaan untuk semua penyedia sumber daya perusahaan baik kreditor dan Investor. Rasio ini dihitung dengan membagi Net Income + After Tax Interest Expense terhadap Average Total Asset. Net Income / Laba bersih setelah pajak merupakan bagian investor sedangkan bunga setelah pajak (after tax interest expense) merupakan bagian kreditur karena ikut mendanai perusahaan.

Return on Total Capital (ROTC) merupakan penyempurnaan ROA yang dibahas di atas, dimana rasio ini tetap membagi Net Income + After Tax Interest Expense terhadap Average total Debt plus Stockholders Equity. Ada yang mengganti dengan EBIT terhadap Average total Debt plus Stockholders Equity. Total Debt disini adalah interest bearing debt atau hutang yang berbunga baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Hal ini karena mereka yang benar-benar mendanai perusahaan dengan mengharapkan return tertentu.

Return on Equity (ROE) dihitung dengan membandingkan Net Income (laba bersih) terhadap average stockholders’ Equity (rata-rata modal pemilik). Rasio ini menujukan berapa return yang didapatkan pemegang saham untuk setiap investasi yang ditanamkan perusahaan. Karena terkait langsung dengan pemegang saham karena itu investor di pasar modal memberikan perhatian khusus untuk rasio ini.

Demikian pembahasan Profitability Ratio, dimana dengan membandingkannya kita mengetahui perusahaan mana yang lebih efisien dari waktu ke waktu. Kita dapat menemukan perusahaan mana yang bertambah efisien dengan menghasilkan profit yang optimal dari tahun ke tahun. Atau kita juga dapat tahu perusahaan mana yang lebih efisien dalam industrinya atau dibandingkan perusahaan sejenis, sehingga kita bisa menginvestasikan dana kita pada perusahaan terbaik.

Hans Kwee
Professional fund manager, trainer, investor and trader | PT. Investa Saran Mandiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here