Sosok: Saidu Solihin, Peduli dengan Kualitas Profesional Pasar Modal

0
12

Direktur Danareksa Sekuritas

Sejak masih menjadi mahasiswa Jurusan Ekonomi di Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 1993-1998, Saidu Solihin sudah merasa bahwa pasar modal adalah bidang yang paling berpeluang membawa kesuksesan dalam kariernya kelak. Benar saja, langkahnya meniti karier di industri pasar modal terus membawanya ke level yang lebih tinggi; menjadi direksi perusahaan efek (sekuritas) dan memimpin beberapa organisasi profesi di pasar modal.

Sebelum menjabat Direktur PT Danareksa Sekuritas sejak tahun 2015, Saidu sebetulnya bukan orang baru di anak usaha PT Danareksa (Persero) ini. Danareksa adalah ‘pelabuhan‘ pertamanya saat memulai karier sebagai pialang efek pada Februari 1997 hingga Februari 2006, usai lulus dari Trisakti. Ketika itu dia termasuk salah satu profesional yang berhasil memegang lisensi Wakil Perantara Perantara Efek (WPPE) di awal kondisi pasar modal Indonesia belum seramai sekarang.

Setelah Danareksa, Saidu kemudian hijrah ke AMCapital (2006–2007), PT NISP Sekuritas(2007–2010), dan menjadi direktur PT Garuda Nusantara Capital (2010–September 2015) sebelum akhirnya kembali ke Danareksa menjadi direktur.

Kariernya selama sekitar 21 tahun di pasar modal tak membuatnya hanya fokus pada kinerja perusahaan efek. Lebih dari itu, dia juga membagi waktunya demi mengembangkan kualitas para profesional di pasar modal lewat aktivitas organisasi pendidikan. Saidu pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) 2008-2012 dan Komite Ketua Umum Asosiasi Profesional Pasar Modal Indonesia (APPMI) 2010- 2013.

“Pengalaman yang paling berkesan buat saya itu saat menjabat Ketua Umum IPEI. Saat itu, terjadi krisis keuangan 2008 yang bermula dari krisis keuangan 2005. Tahun 2005, pasar modal collapse, anjlok. Saat itu saya masuk dan ditugaskan melakukan pembenahan dan penajaman visi organisasi di IPEI,” cerita Saidu kepada Majalah RCM di Jakarta, awal Maret lalu.

Pada pembenahan awal, Saidu ‘membersihkan’ dan mengaktifkan organisasi sehingga bisa fokus pada prioritas program. “Semua lini saya benahi, program kerja prioritas saya kerjakan. Kalau ada yang tak benar, segera saya bereskan,” katanya.

IPEI adalah lembaga pendidikan profesional di bidang pasar modal dan fokus pada peningkatan jumlah tenaga pasar modal bersertifikasi. Lembaga ini jugamembuka Sekolah Profesi Pasar Modal (SPPM) dan Indonesia Investment and Finance Learning Centre (IIFLC). Dua program yang dimulai sejak 2016 itu adalah bentuk komitmen organisasi dalam mendukung target peningkatan jumlah investor Indonesia.

Saidu juga terus terlibat dalam organisasi lain yakni sebagai Ketua Umum APPMI pada 2010- 2013. Satu pencapaian yang cukup mengesankan saat itu adalah dia menggagas cerita kehidupan pialang efek ke layar lebar lewat film Sang Pialang yang dirilis di bioskop nasional pada 17 Januari 2013. Film tersebut dibintangi oleh dua aktor kenamaan Indonesia, Abimana Aryasatya dan Christian Sugiono.

“Waktu itu saya punya mimpi menceritakan dunia pasar modal ke publik lewat bahasa dan media yang mudah dimengerti masyarakat. Saya pilih lewat seni, dengan menceritakan pengalaman saya sebagai pialang efek ke dalam film. Film Sang Pialang adalah satu-satunya film yang saya gagas langsung dan mendapat dukungan penuh dari Bursa Efek Indonesia,” kata Saidu.

Kini, kondisi pasar modal Indonesia sudah lebih bertumbuh dibandingkan dengan era tahun 1998. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat per akhir Desember 2017 jumlah investor pasar modal sudah tembus 1,11 juta, naik 25,24% dari tahun 2016. Jumlah itu termasuk investor saham, surat utang, reksa dana, pemegang warkat, dan efek lainnya.

Di tengah pertumbuhan pasar modal yang sangat baik di Tanah Air, Saidu terus mengingatkan masih ada pekerjaan rumah bagi pengembangan pasar modal yakni kesiapan SDM dan kapasitas para profesional. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam komunitas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Pepatah bilang, ketika kita mencintai dan menghargai pekerjaan, maka pekerjaan itu akan memberikan yang terbaik untuk kita”

Menurut Saidu saat ini semua pemangku kepentingan atau stakeholders mulai aktif memasyarakatkan pasar modal, termasuk self regulatory organization (SRO), dan perusahaan sekuritas dengan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi. “Semua itu guna meningkatkan kualitas para profesional pasar modal agar bisa berkompetisi dengan profesional di MEA,” kata Saidu yang juga menjabat Ketua Ikatan Alumni Universitas Trisakti (IKAUSAKTI) 2017-2021 ini.

Tantangan terbesar lainnya ialah pasokan emiten di pasar modal. “Saya bersyukur, saat ini ada 19 perusahaan yang sedang diproses OJK [Otoritas Jasa Keuangan] untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau IPO [initial public offering],” katanya. Ditambah lagi, ada sekitar 9 anak usaha BUMN juga masuk dalam rencana IPO tahun ini.

Saidu menilai jumlah investor pasar modal saat ini masih rendah atau hanya 0,2% dari jumlah penduduk. Sebab itu keterbatasan jenis produk pasar modal juga menjadi tantangan besar sehingga ke depan produk pasar modal bisa lebih variatif tak hanya dominan saham dan obligasi.

Namun semua tantangan menurut Saidu sepatutnya menjadi tanggung jawab bersama para pelaku pasar agar tujuan mulia pasar modal demi kesejahteraan masyarakat bisa terwujud. Niat itu yang sejak awal ternamam dalam diri Saidu, karena pasar modal adalah passion-nya.

“Bagi saya, bekerja bukan hanya mencari gaji atau penghasilan. Pepatah bilang, ketika kita mencintai dan menghargai pekerjaan, maka pekerjaan itu akan memberikan yang terbaik untuk kita. Kecintaan saya terhadap pasar modal Indonesia-lah yang membuat saya bertahan sampai saat ini.”

Saidu juga berpesan bagi pengembangan Majalah RCM ke depan dengan fokus pada optimalisasi tiga lini bisnis yaitu SDM, teknologi informasi, dan kebijakan serta Standard Operating Procedure (SOP). Jika tiga hal tersebut sudah optimal dan berfungsi, maka sesuai arahan Rencana Jangka Panjang Perusahaan dalam 5 tahun ke depan,RCM akan menjadi market leader. ”Tentunya kita tidak sendiri, perlu support dari semua divisi. Oleh karena itu mari sama-sama kita bersinergi untuk mencapai tujuan tersebut.”

**

“Tahun 2005, pasar modal collapse, anjlok. Saat itu saya masuk dan ditugaskan melakukan pembenahan dan penajaman visi organisasi di IPEI.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here