Muhammad Alfatih: Tak Pernah Menyesal Soal “Arsitektur”

Home » Trading Ideas » Muhammad Alfatih: Tak Pernah Menyesal Soal “Arsitektur”
September 23, 2018 Trading Ideas No Comments

Manusia hanya berkewajiban untuk berusaha, soal hasil itu urusan Tuhan. Sesuai harapan atau tidak, keputusan Tuhan adalah mutlak. Manusia tak perlu protes dan menyesal kalau akhirnya hasil tak sepadan dengan usaha. Sebab selalu ada keterkaitan antara usaha manusia dengan kehendak Tuhan, sekecil apapun itu.

Ketika masih kecil ditanya ingin menjadi apa kalau sudah besar? Anak-anak selalu punya jawaban menarik. Keinginannya acap kali mengacu pada sederet profesi seperti pegawai kantoran, dokter, insinyur, pilot, dan masih banyak lainnya. Setelah itu, usaha akan mengarahkannya sesuai dengan apa yang sudah dicita-citakan.

Seperti Muhammad Alfatih, CSA, CFTe, semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia juga tak ubahnya anak-anak yang lain. Belajar degnan rajin supaya dapat menggapai cita-cita. Keinginannya pada waktu itu adalah menjadi seorang arsitek, kelak kalau sudah lulus. Kebetulan ia masuk jurusan IPA di sekolahnya.

“Saya masuknya IPA, rasanya ekonomi itu asing. Saya suka ilmu ruang, ilmu ukur, dan saya anggap itu basic arsitektur, dan beberapa saudara itu ada yang jadi arsitektur,” ujarnya saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Kiranya keinginan itu tinggal selangkah lagi, pria kelahiran Ankara, Turkey, 53 tahun silam ini, mendapat kesempatan belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dasar otaknya yang cerdas, membuatnya tak perlu waktu lama untuk menamatkan studinya sebagai seorang arsitek.

Setelah lulus, sedianya cita-cita itu sudah tercapai, namun nyatanya ia mendapati hal yang berbeda. Begitu lulus, ia malah tidak beraktivitas sesuai dengan disiplin ilmunya. Justru melenceng cukup jauh. Ia yang berkaca pada pengalaman kakak tingkatnya di kuliahan, kemudian “banting setir” dan memfokuskan diri di bidang ekonomi. Khususnya dunia pasar modal.

“Memang jalan hidup saya bukan disana. Waktu itu belum seperti sekarang, pilihan belum sebanyak sekarang. Dan karena pengetahuan yang masih terbatas,” ujarnya.

Perkenalannya dengan dunia pasar modal pun tak serta merta ia dapatkan. Sebelumnya ia sempat bekerja di sebuah perusahaan futures (pialang berjangka). Tugasnya pada waktu itu adalah melakukan analisa teknikal untuk perdagangan komoditas.

“Pada saat itu sebenarnya saya sedang mendcari-cari bidang profesi yang pas, karena pendidikan saya arsitektur. Jadi wkatu itu saya juga berpikir untuk mencari-cari apa yang bisa saya mulai dari nol. Saya tertarik karena iklannya, yang akan diajarkan mengenai peluang bisnis, belajar di luar negeri, pernak-pernik incomenya,” ungkapnya.

Ia cukup lama bergabung di perusahaan itu, kurang lebihnya 5 tahun. Hingga beberapa kali beralih posisi, mulai dari sales, riset atau analis, hingga manager. Padahal pada saat itu di Indonesia sendiri belum ada Bursa Berjangka. “Jadi saya bergabung dengan perusahaan yagn transaksinya di Jepang,” akunya bangga.

Dari situ ia melihat ada peluang besar. Bursa berjangka pada saat itu masih dianggap ilegal di Indonesia. Dan ia menilai prospeknya masih kurang bagus. Saat itu pula ia berpikir untuk mengikuti Pendidikan Perantara Efek (P3E). Sebab ia melihat bidang yang kurang lebih sama dengan yang ia lakukan pada saat itu adalah dunia pasar modal Indonesia.

“Dulu sebelum ada WPPE (Wakil Perantara Perdagangan Efek), untuk bergerak dibidang pasar modal harus ada pendidikan ini (PPE,red), jadi waktu itu saya ikut ujian ini,” ceritanya.

Itupun tak membuatnya langsung masuk pasar modal. Sebab pada saat itu, pasar modal Indonesia masih dalam tahap peralihan dari sistem manual ke sistem komputerisasi.

“Saya sempat praktek manual dengan spidol dan papan, tapi pada akhir pendidikan sempat simulasi JATS (Jakarta Auto Trading Sistem). Jadi saya dapat dua-duanya, manual dan komputerize,” tambahnya.

Debutnya di pasar modal Indonesia dimulai ketika ia bergabung dengan PT Wanteg Securindo pada tahun 1997. Dengan jabatan sebagai floor trader. Itu pun sebatas pengganti karena floor trader sebelumnya sedang cuti.

“Jadi saya pemain cadangan judulnya. Di situ saya hampir 3 tahun. Pada saat itu saya karyawan kontrak, karena yang saya gantikan sedang cuti hamil,” ulasnya sambil tertawa.

Dari situ, perjalanan karirnya di pasar modal cukup panjang. Setelah menjadi floor trader, ia sempat berganti-ganti posisi di perusahaan lain. Mulai dari marketing, research merangkap dealer, dan customer service. Bahkan pada saat bergabung di PT Mandiri Sekuritas, ia sempat menjadi Call Center.

Sosoknya mulai dikenal sebagai Technical Analysis, ketika ia direkrut oleh PT Sarijaya Permana Sekuritas, 9 tahun silam. Ia mulai dikenal karena hasil dari analisa-analisanya dimasukkan ke stock watch. “Dari sana saya dikenal sebagai analis, paling tidak di kalangan investor ritel,”ujarnya.

Berjalan kurang lebih 2 tahun, karirnya sebagai analis mulai terbuka lebar. Tepatnya pada tahun 2007, ia bergabung dengan PT BNI Securities. Ia menjabat sebagai Head of Section Research Dept. Dengan tantangan yang sedikit berbeda, karena ia di sini harus bisa memperkenalkan teknikal analisa ke nasabah-nasabah institusi. Setelah itu, sekali lagi ia berpindah ke PT Samuel Sekuritas Indonesia pada tahun 2010, sebagai Vice President (Senior Technical Analysis).

“Sempat ada yang mengkritik saya kutu loncat, tapi terus terang kepindahan saya bukan sepenuhnya karena inisiatif saya. Yang pasti memang saya menekuni analisa teknikal, dan saya enggak tanggung-tanggung, saya ambil lisensi analisa teknikal internasional, dan memang yang saya jual itu,”tegasnya.

Kini, meskipun ia sudah mendapat jabatan yang tinggi, ia tak lantas diam. Ia mengaku masih banyak rencana-rencana yang ingin diterapkannya melalui Samuel Sekuritas, untuk turut mengembangkan pasar modal di Indonesia. “Dan kenapa saya pindah ke Samuel Sekuritas, karena owner juga welcome dengan rencana saya,”tegasnya.

Secara garis besar rencana-rencana itu adalah edukasi terhadap pelaku pasar modal Indonesia, baik investor, trader, maupun broker, supaya dapat memahami teknikal analisis saham dengan baik. Sehingga dapat bersaing dengan investor asing yang masih mendominasi di bursa dalam negeri.

“Saya kenapa ingin sharing dengan nasabah institusi Indonesia, karena saya enggak mau mereka dipermaikan oleh institusi asing. Supaya seimbang, supaya jangan hanya ikut-ikutan. Karena tools analisa teknikal ini bisa dipakai oleh semua jenis pasar keuangan. Pasar komoditas, currency, saham, obligasi,” harapnya.

Bukan itu saja, ia pun sering merasa geram ketika banyak institusi yang masuk ke pasar modal, tapi pengetahuan akan analisis fundamental maupun teknikal analisisnya tidak cukup. “Banyak institusi yang belum pengalaman di saham. Saya masih ada bebearpa program, masih direncdanakan,” katanya.

Saking lamanya ia di dunia saham, ia menilai investasi itu menjadi satu hal yang sudah sepatutnya diadakan dalam pos keuangan. Baik untuk kalangan pribadi maupun perencanaan keuangan sebuah institusi. Investasi inilah yang sejatinya menjadi masa depan. Sebab pada saatnya nanti, hasil dari investasi akan menjadi sangat berarti.

“Padahal investasi itu sangat penting untuk pengembangan keluarga, selain sebagai proteksi, itu salah satu yang saya lakukan untuk perkenalakan pasar modal,” ujar mantan Secretary General IPEI periode 2002-2005 ini.

Keinginannya untuk memperkenalkan investasi melalui pasar modal memang sangat besar. Bahkan ia pun masih berambisi untuk membuat masyarakat Indonesia menjadi “melek” investasi melalui rencana-rencananya.

Namun apapun itu, sejauh ini apa yang ia lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang ia pikirkan ketika lulus SMA, yaitu menjadi arsitek. Dulu, ia yang begitu menyukai bangunan-bangunan dengan konsep arsitektur yang jelas, gambar-gambar 3 dimensi, sangat dekat dengan desain, sekarang kenyataanya justru terbalik. Pada zaman dulu, semasa sekolah, buatnya bidang ekonomi sangat asing, tapi kini justru ia tekuni.

“Arsitektur itu ternyata butuh unsur seni, di situ saya kurang. Saya enggak menyesal, seandainya dulu ada kuliah pasar modal mungkin saya akan ambil pasar modal. Tapi paling tidak orang tahu saya kuliah di ITB, itu mendingan lah,” akunya sambil tertawa.

Walau apa yang ia lakukan jauh dari disiplin ilmunya, nyatanya ia bisa membuktikan bahwasanya kini ia sudah sukses. Sebab menurutnya sukses tak harus diartikan sebagai pencapaian sesuai disiplin ilmu. Tapi lebih kepada konsistensi untuk menjalani sesuatu.

Yang paling penting digaris bawahi, banyak sekali cara untuk mencapai sukses. Dan sekali lagi, ini bukan semata persoalan sesuai atau tidak dengan apa yang ia pelajari secara teoritis. Namun lebih pada bagaimana caranya untuk dapat membaca tren. Ia menyebutnya ‘follow the trend’. Kejelian untuk tahu dan paham mengenai proses terbentuknya tren, sehingga bisa mengikuti tren dari awa, bukan sekadar follower saja.
“Jadi bisa melihat di mana peluangnya, dan kemudian bisa mengambil kesempatannya,” pungkasnya.

Attachments

Leave a Reply