PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP, Rp17.125, SELL, TP Rp15.300) mencatatkan laba bersih 12 bulan pertama tahun 2017 (12M17) sebesar Rp1,86 triliun , -52% YoY, jumlah ini berporsi 90% dari prediksi pasar – di bawah prediksi.

Pendapatan lebih rendah dari yang diprediksikan yang disebabkan kenaikan beban operasional, khususnya biaya periklanan dan distribusi. Kami masih merekomendasi SELL dengan TP Rp15.300.

Weaker than expectations. Lebih rendah dari prediksi.

INTP mencatatkan laba bersih 12M17 sebesar Rp1,86 triliun, -52% yoy, berporsi sebesar 90% dari prediksi pelaku pasar dan 96% dari prediksi kami.

Laba operasional INTP turun di bawah prediksi karena peningkatan yang signifikan pada beban operasional sebesar +13% YoY, sementara itu semua yang berada di atas tingkat operasional sama dengan prediksi pelaku pasar.

Secara triwulan, laba bersih kuartal IV/2017 (4Q17) mencapai Rp453 miliar, -10% QoQ / -37% YoY. Penurunan kuartalan dalam laba bersih disebabkan peningkatan pada beban operasional sebesar +11% YoY.

Improvement in COGS/ton was not enough to support decline in blended ASP. Peningkatan Harga Pokok Penjualan (COGS)/ ton tidak cukup untuk mendukung penurunan ASP campuran.

COGS/ ton INTP meningkat sebesar -2% QoQ / -1% YoY menjadi Rp539 ribu/ ton pada 4Q17 karena penurunan biaya tenaga kerja – terutama didukung oleh pengurangan karyawan yang tidak digantikan oleh perusahaan.

Meskipun peningkatan signifikan pada beban bahan bakar pada 2017 sebesar + 11% YoY, 12M17 COGS tetap flat sebesar Rp561.000/ ton karena perusahaan berhasil menurunkan biaya bahan baku sebesar -8% YoY dan biaya pengepakan sebesar -5% YoY per ton.

Sebaliknya, ASP campuran terus menurun menjadi -2% QoQ/ -8% YoY menjadi Rp834 ribu/ ton pada 4Q17 sementara gabungan kumulatif ASP menurun hingga -10% yoy menjadi Rp860r ibu/ ton karena persaingan yang ketat.

Sebagai hasil penghematan biaya pada 4Q17, marjin kotor meningkat menjadi 35,3% pada 4Q17 dari 34,9% pada 3Q17 sementara total 12M17 margin kotor menurun menjadi 34,7% dari 41,2% di 12M16.

What caused the surge in SG&A expenses? Apa yang menyebabkan lonjakan biaya Selling, General and Administrative expenses (SG & A)?

Lonjakan biaya operasional disebabkan oleh peningkatan signifikan pada beban iklan, yang meningkat +173% YoY dari Rp40 miliar pada 12M16 menjadi Rp108 miliar pada 12M17. Pada kuartal keempat saja, beban iklan naik +126% QoQ/ +252% YoY karena perusahaan memutuskan untuk meningkatkan kegiatan pemasaran dan promosi pada 4Q17 untuk mendukung pertumbuhan penjualan.

Faktor kedua yang menyebabkan total beban operasional naik berasal dari beban pengiriman, yang tumbuh menjadi +6% yoy pada 12M17, namun menurun sebesar -9% QoQ pada 4Q17 berdasarkan Rp / ton.

Manajemen mencatat bahwa peningkatan beban pengiriman pada 12M17 disebabkan oleh peningkatan logistik dan beban truk yang terjadi pada kuartal sebelumnya. Hal ini menyebabkan marjin operasi menurun menjadi 13,4% pada 12M17 dari 23,5% pada 12M16 dan 12,1% pada 4Q17 dari 14,2% pada 3Q17.

What to expect this year? Apa yang diharapkan tahun ini? Kami memprediksi perusahaan akan mencatat sedikit penurunan dalam pertumbuhan pendapatan bersih pada tahun 2018 disertai dengan beberapa penurunan marjin karena kenaikan harga batubara dan persaingan ketat.

Kami melihat persaingan akan terus menguat mengikuti perdagangan, Keputusan Menteri Perdagangan untuk mengizinkan impor semen dan klinker. Kami percaya bahwa peraturan yang baru dikeluarkan ini sangat merugikan untuk INTP karena Anhui Conch tidak akan lagi memperpanjang untuk mengandalkan INTP untuk pasokan klinker.

Mengingat bahwa Anhui Conch menjadi lebih agresif, INTP dapat berpotensi menghadapi persaingan yang lebih ketat karena kedekatannya dengan tanaman Anhui Conch.

Mempertahankan SELL dengan TP Rp15.300. Berdasarkan valuasi rasio harga saham per laba (PE ratio) 2018 sebesar 30,7x. (Priscilla Thany, Tjandra Lienandjaja/Riset Mandiri Sekuritas)

__._,_.___