Deputi Gubernur Senior (DGS) BI Mirza Adityswara mengungkapkan langkah pelonggaran bank sentral telah dimulai dengan memotong giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin menjadi 7,5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) November lalu.

Menurutnya, langkah itu bisa saja dilanjutkan dengan memangkas suku bunga acuan alias BI Rate pada RDG berikutnya. "Ya bisa saja turun, tapi kami harus melihat apakah kebijakan itu cukup untuk menjaga stabilitas. Stabilitas itu kan juga untuk pertumbuhan," kata Mirza, Kamis (10/12).

Dia menuturkan, dalam praktek operasi moneter di dunia, kebijakan pemotongan suku bunga acuan memang lazim didahului oleh pelonggaran GWM.

Mirza menyebutkan pelonggaran GWM tersebut agar likuiditas tidak terlalu ketat di pasar sehingga bank bisa menurunkan bunga deposit dan pada gilirannya diikuti oleh penurunan suku bunga kredit.

Dia menjelaskan, langkah pelonggaran moneter yang ditempuh bank sentral guna memacu perekonomian juga telah dilakukan dengan berbagai instrumen, mulai deposit facility (DF) untuk overnight sebesar 5,5% hingga suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 7,15% yang berjangka setahun.

"Jadi sebenarnya suku bunga BI itu 5,5-6,4. Bank tidak harus menawarkan suku bunga deposito dengan BI Rate level 7,5%," lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here