ITMG berhasil mendapatkan core earning lebih bagus dari yang diharapkan sebesar US$32 juta (6% yoy) yang membuat total laba pada 9M15 berada diatas perkiraan CIMB sebesar US$94m (-34% yoy, 16% diatas ekspektasi CIMB).

Kunci dari kinerja yang bagus adalah menurunnya biaya sebesar 5% QoQ menjadi US$46.7/t, yang diakibatkan oleh produksi perseroan diarahkan masuk kedalam stok persediaan dikarenakan permintaan pasar coal dunia yang masih melemah dengan diarahkan produksi masuk kedalam stok persediaan maka meningkatkan level persediaan menjadi 3.7Mt pada 3Q15.

Stripping ratio perusahaan cukup tinggi 8.9x (proyeksi CIMB 7.6x), Produksi perseroan pada 9M15 sebesar 21.5Mt sesuai dengan prediksi CIMB dan harga jual rata-rata sebesar US$57.9 berada diatas proyeksi CIMB. Kombinasi dari tingginnya tingkat persedian stok perseroan (3.7Mt pada akhir 3Q15) ditambah dengan melemahnya permintaan coal akan membuat resiko penurunan margin perseroan pada 4Q15 dan kwartal selanjutnya.

CIMB telah memotong proyeksi harga coal menjadi US$52 pada 2016 dan US$55 pada 2017, hal ini dilakukan seiring dengan melemahnya ekspor coal indonesia sebesar 10% dan juga resiko dari China yang akan melakukan pemotongan coal impor sebesar 31% pada 8M15. Dari kabar yang CIMB terima manajemen ITMG masih melakukan review mengenai kebijakan yang akan diambil pada 2016, seperti pemotongan produksi untuk mengurangi beban (cutting stripping ratio) dan untuk mendorong margin (menaikan produksi coal yang berkualitas tinggi).

CIMB melakukan proyeksi arus kas ITMG (EBITDA) margin akan jatuh menjadi US$5.8/t tahun 2016 dari sebelumnya US$8/t pada tahun 2015. Yang berarti akan terjadi penurunan EPS sebesar 37%. Harga saham ITMG diperdagangkan dengan rasio 8.11 PE dan 0.77x P/BV pada tahun 2016. Yang berarti sebagian berita buruk perusahaan sudah price in dengan harga saham. Hal yang menjadi perhatian dari CIMB adalah ketersediaan cadangan coal untuk menjaga laba perusahaan dalam jangka panjang, dari data terakhir cadangan ITMG hanya 231Mt.