Aprida CFP

Sebagian investor mungkin ada yang pusing, lemas, mual serta  cemas mengarah pada panik dengan situasi pasar modal saat ini baik yang berinvestasi pada saham, obligasi maupun reksadana. IHSG sudah rontok hampir 15% sejak awal tahun hingga awal November.

Namun sebagian lagi mungkin ada yang senyum-senyum dan kegirangan karena bisa mendapatkan “BIG SALE”. Selebihnya bingung harus bagaimana menyikapi market. Imbal hasil saham, obligasi dan reksadana  dalam satu bulan belakangan ini terlihat sekali minusnya.

Apa Yang Harus dilakukan oleh Investor?

Sejumlah analis masih silang pendapat soal kapan kondisi pasar akan membaik. Apakah akan seburuk krisis tahun 2008 atau tidak? yang pasti ada saja yang menganalisa IHSG bisa turun ke 2.600 untuk skenario terburuk dan 4600 jika  Reversal.  Untuk inflasi bisa mencapai 9 persen sampai dengan akhir tahun. Dengan kata lain ruang untuk investasi sektor keuangan berfluktuasi sangat tinggi.

Untuk itu apa yang harus dilakukan? Seperti pada teori Investasi sebenarnya ada tiga cara untuk melakukan investasi: Average Down, Average Up, Cost Averaging. Penjelasan mengenai ketiganya mudah ditemukan di internet. Cara apapun yang akan anda pilih sah-sah saja, asal:

  1. Tidak mengambil keputusan investasi dalam keadaan panik sehingga dapat berpikir lebih rasional. Dampak kepanikan misalnya panik jual tanpa mempelajari dan menganalisa fundamental dan arah pasar.
  2. Pastikan Dana Darurat Anda tersedia. Kondisi saat ini tidak hanya akan berpengaruh pada portfolio investasi Anda, namun erat kaitannya dengan kondisi perekonomian Indonesia. Jika kondisi terburuk terjadi, misalnya perusahaan tempat Anda bekerja melakukan PHK, dan Anda tidak mempunyai dana darurat sama sekali, maka sama dengan membahayakan keuangan Anda sendiri. Mencairkan investasi dalam kondisi pasar fluktuatif akan membuat kerugian pada investasi Anda.
  3. Pastikan Anda sudah mempunyai sistem pengamanan terhadap risiko yaitu asuransi. Ini jangan dianggap sepele. Bayangkan Anda menderita sakit yang mengharuskan dirawat, namun karena semua uang anda diinvestasikan semua, mau tidak mau untuk membayar biayanya mengharuskan anda menjual aset dalam keadaan rugi.
  4. Pilih metode investasi yang sesuai dengan tingkat kenyamanan anda, dan pastikan tetap disiplin. Contoh:
  • Jika anda sibuk dan tidak bisa terus memantau pergerakan potfolio, Anda dapat memilih model Cost Averaging. Tidak perduli posisi IHSG anda tetap disiplin berinvestasi tiap bulannya, sehingga akan mendapatkan harga rata-rata yang bagus dikemudian hari.
  • Jika anda rela menyisihkan waktu untuk memantau pergerakan pasar dan mempelajari fundamental dan anda yakin arahnya masih akan terus turun, alokasi investasi anda yang misalnya Rp1 juta/bulan dapat parkir dulu di deposito jangka paling pendek. Alokasi kemudian diinvestasikan ke saham, obligasi atau reksa dana bila dianggap murah.
  • Kombinasi dari keduanya, yaitu tiap bulan tetap menambah investasi, namun jika ada dana lebih bisa digunakan untuk menambah dana investasi
  1. Jika memiliki dana kebutuhan keuangan jangka pendek, tetapi baru dipakai tahun depan dalam bentuk RDPU dalam jumlah besar, pindahkan ke instrumen yang lebih kecil resikonya seperti deposito.
  2. Jika dana darurat sudah mencapai nilai idealnya (sesuai dengan kondisi keluarga saat ini), sehingga nilai dana darurat terlihat besar dan ingin diambil untuk investasi dengan alasan momentum, pastikan jumlahnya tidak terlalu banyak.
  3. Pelajari selalu fundamental setiap portfolio yang menjadi sasaran investasi Anda

Ingat Resiko Anda Tidak Berinvestasi Lebih Besar Dibandingkan Resiko Terhadap Penurunan Nilai Investasi Yang Belum Direalisasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here