Roller Coaster Reksadana

Home » Mutual fund » Roller Coaster Reksadana
June 13, 2013 Mutual fund, Investing Ideas No Comments

Dalam berinvestasi reksadana, saya selalu membayangkan diri saya sedang beroller coaster. Saya tersenyum ketika IHSG menguat dan menutup wajah dengan bantal ketika saldo terpangkas.

Semula memang menakutkan, tapi lama-lama saya terbiasa dan perlahan mulai menikmati naik-turun itu. Sebab, selain keberanian, berinvestasi reksadana juga butuh keteguhan. Karena reksana dana adalah investasi jangka panjang.

Awalnya keinginan membeli reksadana terjadi pada krisis keuangan 2008. Saat itu saham jatuh hingga 51,17 persen di level 1.340,89 dari 2.745,82 pada penutupan 2007.

Anjloknya harga saham menjadi momentum paling tepat untuk membeli reksadana. Saya pun meluncur ke sebuah bank milik pemerintah. Tapi, sial, saya datang terlalu siang. Petugas bank tak berani mendebet langsung tabungan saya. Ia meminta saya datang lagi esok hari.

Namun saya tak datang lagi. Alasannya sederhana: tak punya waktu. Sebagai wartawan, sulit sekali saya mencari sela waktu di sela kesibukan kerja.

Akibatnya, saya pun kehilangan momentum. Sebab, pasca krisis keuangan 2008, harga saham terus merangkak naik. Bahkan sepanjang 2009, IHSG naik hingga 82,59 persen atau ditutup pada level 2.474,88.

Momentum itu lewat. Saya jadi mengamini istilah berinvestasi memang memiliki risiko, namun tidak berinvestasi risikonya lebih besar. Dengan kata lain, seperti niat baik, berinvestasi tak boleh ditunda.

Sebab keuntungan yang bisa ditangguk dari produk pasar modal, salah satunya reksadana, lebih tinggi dibanding menabung atau mendepositokan tabungan –tentu saja ada hal itu diikuti risiko. Seperti pepatah high risk high return.

Reksadana dikelola oleh manager investasi, sehingga saya yang awam ini tak perlu pusing memilih saham apa saja yang layak beli.

Selain itu, memulai reksadana juga tak membutuhkan dana jumbo. Investasi ini bisa dimulai dari Rp 100 ribu secara rutin setiap bulan. Investasi awal reksadana ini jauh lebih murah dibanding membeli saham sendiri. Juga lebih murah dari berinvestasi emas. Sekedar catatan, saat pertama kali membeli produk reksadana, harga per gram emas saat itu mencapai Rp 500 ribu.

Karena itu, sebagai pemula, saya pun memilih reksadana sebagai investasi di pasar modal. Alasan lain, sebagai wartawan ekonomi, saya ingin mencicipi langsung bagaimana rasanya berinvestasi di pasar modal. Tak seperti membeli saham langsung, reksadana bebas konflik kepentingan sehingga cocok untuk wartawan.

Sebelum menetapkan membeli reksadana, saya menentukan tujuan-tujuan investasi. Misalnya untuk dana pensiun, untuk naik haji, untuk dana pendidikan atau sekedar untuk piknik keliling nusantara.

Tujuan-tujuan itu harus disertai target nilai yang ingin dicapai. Sehingga kita akan tahu kapan tujuan-tujuan itu bisa dieksekusi. Juga, dengan memiliki target nilai, kita akan lebih fokus mencari kendaraan bagaimana menentukan tujuan tersebut.

Misalnya untuk dana pendidikan anak 17 tahun ke depan. Hasil hitung-hitungan kasar menunjukkan setidaknya saya membutuhkan dana lebih dari Rp 1 miliar. Angka ini sudah termasuk inflasi pendidikan yang naik 30 persen saban tahunnya.

Jika menggunakan tabungan, maka saya harus menabung Rp 6,2 juta per bulan –ini dengan asumsi bunga bank 3 persen dan inflasi 6 persen. Sedangkan jika saya menempatkan dana di reksadana saham –dengan asumsi imbal hasil sekitar 20 persen, maka saya cukup menyetor Rp 1,2 juta per bulan. Cukup jauh selisihnya!

Sebagai kendaraan untuk tujuan-tujuan yang telah kita tetapkan tadi, reksadana memang lebih murah ketimbang tabungan. Tapi, seperti membeli motor atau mobil, sebaiknya riset dulu untuk menentukan produk reksadana yang ingin anda beli.

Sebab memilih manager investasi (MI) yang terpercaya gampang-gampang susah. Misalnya, ada MI yang memiliki produk dengan imbal hasil yang sangat tinggi, namun ketika saham jatuh imbal hasilnya juga paling rendah dibanding produk yang lain.

Tapi memilih MI yang oke juga tak rumit. Saya memilih MI setelah melihat kinerja produknya selama beberapa tahun terakhir. Total dana yang dikelola juga bisa dijadikan bahan penilaian. 15 MI di Indonesia saat ini menguasai 85 persen pasar reksadana. Dan jangan lupa, pastikan produk yang dikelola terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ini untuk menghindari penipuan investasi seperti kasus Antaboga dulu. Jika perlu, baca prospektus masing-masing produk yang bisa diunduh di masing-masing situs MI.

Saya sendiri membeli produk reksadana di bank swasta yang menawarkan pendebetan tiap bulan untuk membeli reksadana. Produk itu juga menawarkan pembelian reksadana mulai dari Rp100 ribu tiap bulannya.

Sebagai investor jangan lupa menanyakan apakah staff di bank memiliki lisensi wakil penjual efek reksadana (waperd) atau tidak. Investor juga akan diukur tingkat risikonya, apakah termasuk kategori agresif atau konvensional. Agresif maksudnya sanggup menghadapai risiko fluktuasi harga ketika portofolio investasi tengah jatuh. Saya sendiri termasuk tipa agresif sehingga cenderung memilih produk reksadana saham dibanding jenis lain seperti reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap.

Untuk investasi awal saya membeli empat jenis produk reksadana untuk tujuan yang berbeda. Misalnya dana pendidikan anak hingga sekolah dasar, saya memilih reksadana campuran karena memiliki waktu yang lebih pendek. Sedangkan untuk dana pendidikan anak kuliah atau dana pensiun saya memilih reksadana saham.

Satu produk Rp100-200 ribu tiap bulannya, dengan total Rp500 ribu. Memang jauh dari angka yang ditargetkan karena pada saat itu kami tengah konsentrasi membeli rumah. Perlahan alokasi dana investasi tiap bulan sedikit demi sedikit naik.

Metode berinvestasi secara berkala ini dinamakan dollar cost averaging, tak peduli pasar sedang bagus atau buruk. Cara ini saya pilih untuk mendisiplinkan diri dalam berinvestasi. Sebab, yang terpenting dalam berinvestasi memang bukan dana besar, tetapi keteguhan hati untuk menyisihkan uang secara rutin. Meski jumlahnya kecil hasilnya akan lebih optimal jika dilakukan dalam jangka waktu lama. Dibanding investasi sekaligus dalam jumlah besar dengan waktu lebih pendek.

Proses mendisiplinkan diri pada awalnya memang cukup berat. Sebab menyisihkan uang untuk investasi berarti juga mengetatkan ikat pinggang, mencoret pengeluaran tak perlu, dan menyesuaikan gaya hidup dengan dana yang ada, bukan sebaliknya.

Sekarang saya sudah terbiasa hidup ketat. Naik turunnya harga saham yang membuat saldo reksadana terpangkas pun mulai tak lagi mencemaskan. Sebab, berinvestasi di reksadana memang seperti naik roller coaster: butuh keberanian sekaligus keteguhan.

Nur Farida Ahniar | @nunungahniar 
Saat ini bekerja  di KATADATA. Sebelumnya pernah bekerja di Harian Seputar Indonesia dan vivanews.com sebagai wartawan ekonomi. Di kedua media itulah ia sering menulis artikel mengenai reksadana dan produk pasar modal lainnya. Namun seringnya menulis bukanlah jaminan ahli ketika benar-benar mencoba berinvestasi di reksadana. Pengalamannya sering ia bagikan ke teman-teman terdekat agar semakin banyak orang mulai berinvestasi di produk pasar modal.

Leave a Reply